Share this
Share

shares

Wiji Thukul, Puisi dan Film Istirahatlah Kata - kata

3 June 2017

Wiji Thukul, Puisi dan Film Istirahatlah Kata - kata

Sosok fenomenal Wiji Thukul menjadi hangat diperbincangkan masyarakat Indonesia belakangan ini setelah sebuah film yang berjudul Istirahatlah Kata-Kata diputar di berbagai bioskop tanah air. Sebelum beranjak untuk nonton filmnya, ada baiknya kalian mengenali dulu sosok pria kelahiran 26 Agustus 1963 ini, yang dikabarkan menghilang secara misterius dengan dugaan penculikan oleh militer.

Siapakah Wiji Thukul ?

Pria yang akrab disapa Thukul ini merupakan seorang sastrawan dan aktivis Hak Asasi Manusia yang banyak menyuarakan dan melakukan perlawanan pada jaman Orde Baru. Kendati dinyatakan hilang sejak tahun 1998, namun semangat dan perjuangan Wiji Thukul masih bisa kita rasakan lewat puisi dan sajak yang menjadi potret kekerasan pada jaman Orde Baru. Di antaranya ada, Para Jenderal Marah Marah, Peringatan, Sajak Suara dan lain sebagainya.

Sebelum dinyatakan hilang, Wiji Thukul beberapa kali terjun bersama massa untuk melakukan aksi – aksi di berbagai daerah. Sebagian besar dilakukan di tanah Jawa, antara lain pada tahun 1992 ia ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo. Kemudian tahun-tahun berikutnya beliau aktif di berbagai kegiatan di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER). Selang tiga tahun, Wiji Thukul turun ke jalan untuk mendukung aksi protes karyawan PT Sritex yang menyebabkan dia harus mengalami cedera mata karena dibenturkan ke kap mobil oleh aparat. Serta beberapa aksi lainnya yang berimbas menjadikan Wiji Thukul sebagai daftar pencarian orang. Sehingga Wiji Thukul harus kucing-kucingan dengan apparat demi keselamatannya. Tahun 1998 beberapa orang menyatakan keberadaannya di Jakarta di sekitaran bulan April. Sampai pada akhirnya, istri dari Wiji Thukul yang bernama Siti Diyah Sujirah alias Sipon membuat sebuah laporan kehilangan ke Kontras (Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan) pada tahun 2000.

Kendati sudah membuat laporan dan banyak aksi dilakukan untuk meminta pertanggung jawaban dari Pemerintah, sampai saat ini Wiji Thukul dan segenap orang yang dinyatakan hilang pada masa tersebut belum juga mendapat titik terang. Presiden Jokowi sempat berujar pada masa kampanye nya dahulu akan mengusut tuntas kasus penculikan jaman 1997 – 1998. Namun, seperti yang kita bisa lihat saat ini, janji hanyalah janji. Meski banyak aksi telah dilakukan oleh sebagian masyarakat dalam rangka “menagih” janji Pak Presiden, namun konklusi akhir dari kasus hilangnya aktifis termasuk di antaranya adalah Wiji Thukul masih akan menjadi sebuah manifestasi yang bersandar pada waktu yang tak pasti.

Demi menyuarakan hal tersebut, seorang sineas perfilman Indonesia akhirnya melahirkan sebuah film yang berjudul Istirahatlah Kata-Kata. Film ini sendiri sebagaimana kita tahu terinspirasi dari perjalanan seorang manusia bernama Wiji Thukul. Seorang seniman, aktivis, suami dan ayah yang hidupnya berakhir tragis karena gencar menyuarakan hak asasi manusia pada saat Indonesia mengalami titik tergelapnya. Dia adalah Yosep Anggi Noen, pria berusia 33 tahun yang bertindak sebagai man behind the lens alias Sutradara untuk film ini. Dengan budget yang tergolong minim dan proses produksi yang memakan waktu hampir tiga tahun, pada tanggal 19 Januari 2017 kemarin film ini resmi diluncurkan untuk publik melalui media layar bioskop. Beragam komentar datang baik positif maupun negatif perihal film ini. Tapi apapun itu, pada akhirnya publik mendapat kesempatan untuk lebih mengenal sosok Wiji Thukul secara garis besar, bagaimana kisahnya bisa berkembang dan menginspirasi banyak orang untuk lebih berani mengemukakan pendapat saat ada kejanggalan yang terjadi di pemerintahan Indonesia.

Wiji Thukul, Puisi dan Film Istirahatlah Kata - kata

Istirahatlah Kata-Kata yang awalnya ditayangkan melalui ajang festifal film ternyata mendapatkan sambutan yang baik sebelum akhirnya mulai dipasarkan untuk bioskop komersil. Buat kalian yang belum nonton, sebaiknya segera datang ke bioskop terdekat untuk menikmati film yang diperankan secara apik oleh Gunawan Maryanto (40) dan Marissa Anita (33) ini. Terlepas dari apapun penilaian kalian nantinya, paling tidak marilah kita mengapresiasi niatan baik dari segenap kru yang membidani lahirnya film Istirahatlah Kata Kata. Karena film ini adalah wujud sebuah perayaan dari pil pahit yang masih menjadi misteri dari kejadian di masa lampau.

Janji Presiden mungkin hanya akan menjadi sebuah materi kampanye semata, namun perjuangan dari seorang Wiji Thukul masih akan terus menginspirasi banyak orang di negara Ibu Pertiwi ini. Terkadang tidak perlu angkat senjata dan letupan bom untuk memerangi kenistaan para penguasa, sebuah karya yang tulus dan murni akan jauh lebih diingat dan membekas di benak orang banyak. Mengutip untaian kata dari sang penyair pelo yang berjudul Sajak Suara,


sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
siapkan untukmu: pemberontakan!

sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?

sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan

Jadi, masihkah kita harus membungkam suara lebih lama lagi?

*dari berbagai sumber*

Baca juga artikel menarik lainnya:

Berikan komentarmu

Related articles

 #sejarah #sosok #wiji thukul
Share

Pilihan editor