Teman yang Pesimis Enaknya Diapain, Ya?

Spread the love
Katanya, pergaulan itu bisa mempengaruhi kepribadian sekaligus pola pikir seseorang. Misalnya saja, saat kamu bergaul dengan orang-orang yang doyan belajar, otomatis kamu bakalan suka belajar juga dan isi kepala kamu bakalan penuh dengan hal-hal yang berfaedah. Atau misalnya kamu lebih suka bergaul dengan orang-orang yang doyan belanja, otomatis kamu nggak bakalan bisa hemat dan selalu laper mata saat liat flash sale. So, nggak usah heran kalau orang tua kita dulu selalu mewanti untuk pilih-pilih temen. Mereka tentu saja worry banget, takut pait-paitnya kamu salah gaul dan terjerumus pada hal-hal yang negatif.
Kita mah ya setuju-setuju aja buat pilih-pilih temen. Lingkaran toxic pertemanan emang nggak pernah bikin sehat jiwa dan raga. Tapi, pernah nggak sih kamu ngalamin temenan sama orang yang dikit-dikit ngeluh? Temen yang dikit-dikit insecure banget takut nggak lolos ujian padahal dia udah belajar 12 jam? Kalo pernah, lanjutin baca artikel ini sampai habis.
Perasaan seperti itu biasanya kita sebut dengan pesimis. Teman dengan sikap yang satu ini biasanya selalu melihat segala sesuatunya dari sisi negatif. Jadi, nggak heran kalau misalnya sewaktu-waktu dia curhat sama kamu karena takut gagal. Meski kamu sudah ngasih semangat, dia biasanya masih galau yang ujung-ujungnya malah jadi stres. Kalau kamu terus-terusan gaul sama dia, bisa-bisa kami juga ketularan!
Tears on face of crop anonymous woman
via pexels.com
Terkadang kita nggak enak buat jauhin dia. Meski sikapnya begitu, tapi dia itu sebenernya baik, suka traktir makan dan nganter pulang, misalnya. Kamu sebagai teman yang baik tentu saja ingin mengubah dia menjadi lebih baik dan positif. Karena kalau didiemin aja, sikap yang meresahkan itu bisa-bisa menular dan mengakar di raga kamu.
Berteman dengan orang yang pesimis sebenarnya dianggap cukup risky, sih. Selain bisa menular ke kamu, dia juga sebenarnya nggak bisa menerima perubahan yang bikin kamu bete banget. Orang yang sudah terbiasa dengan pikiran negatif akan takut keluar dari zona nyamannya. Dia takut sewaktu-waktu hal buruk menimpa dirinya. Daripada itu terjadi, lebih baik dia tetap dengan pikiran negatifnya yang dianggapnya benar. Jadi, usaha kamu untuk membawa dia ke-jalan-yang-benar itu kayak sia-sia aja gitu.
Selain itu, terlalu lama bergaul dengan teman yang pesimis juga bisa membuat kamu nggak bahagia. Misalnya saja, ketika kamu mengajak dia untuk mengikuti suatu kompetisi bergengsi, dan seperti biasa, dia bakalan menolak karena udah pesimis duluan. Akibatnya, kamu bakalan kesel juga dan mau nggak mau harus nyari partner lain. Atau kasus lain seperti saat dia akan menikah. Otomatis kamu bakalan seneng dengan kabar itu. Namun, dia malah tiba-tiba pesimis karena calon pasangannya itu lebih “wah” daripada dia. Belum lagi dia mengkhawatirkan masa depan dengan pasangannya tersebut. Kalau kamu dicekokin terus menerus dengan kalimat-kalimat negatif, otomatis kamu juga bakalan ikutan sedih dan ngerasa was-was.
Woman Comforting Friend
via pexels.com
Meski terdengar agak lebay, tapi memang begitu adanya. Teman yang pesimis sedikit banyaknya memberikan dampak yang ‘tidak menyenangkan’ bagi kita. Kadang kita mikir, kok bisa ya dia kayak gitu? Padahal melihat sesuatu dari sudut pandang yang positif itu sebenernya nggak susah, lho. Iya, buat kita. Buat mereka mungkin nggak demikian.
Teman bisa jadi pesimis bisa jadi disebabkan oleh pola pikir yang ditanamkan orang tua. Sejak kecil dulu, dia mungkin selalu diajarkan untuk menilai sesuatu dari sisi negatifnya dulu. Orang tuanya mengajarkan untuk insecure duluan. Prasangka ini cenderung berbahaya karena si dia menjadi tidak bisa mengimbanginya dengan prasangka positif. Akhirnya, kebiasaan ini terbawa sampai teman kamu itu tumbuh dewasa. Hmmm…
Selain itu, minimnya apresiasi juga bisa membuat pikiran teman kamu jadi negatif terus. Pada dasarnya, apresiasi itu penting agar dia merasa dihargai dan punya nilai atas apa yang  dilakukan. Jadi, nggak aneh kalau memang orang tersebut selalu pesimis karena orang-orang disekitarnya tidak pernah memberikan pujian atau hal-hal lainnya yang bisa membuat dia lebih pede. Akibatnya, dia bakalan merasa jadi manusia yang tidak berharga. Apa yang dia lakukan seolah nggak ada artinya. Dia juga bakalan merasa nggak  punya masa depan yang cerah.
Perasaan pesimis juga bisa dirasakan saat seseorang tidak punya kompetesi yang mumpuni dibandingkan orang lain. Orang tersebut bakalan ngerasa minder setelah tau teman di sebelahnya merupakan lulusan luar negeri, misalnya. Atau orang itu tidak mau ikutan kompetisi akibat lawannya terlihat lebih kompeten dibanding dirinya. Bukannya untung, orang pesimis seperti ini malah kehilangan kesempatan emasnya untuk unjuk gigi.
Two Women Sitting on Couch
via pexels.com
Punya temen kayak gini kadang bikin kita capek, bahkan pengennya ngejauh aja biar aman dari ocehan-ocehan prasangka negatifnya. Btw, bukan teman yang baik kalau kamu ninggalin dia gitu aja. Jadi, temen yang pesimis ini enaknya diapain??

Pertama, kamu tentu saja harus beri dia dukungan. Saat ia mulai berbusa menyatakan hal-hal yang membuat kamu resah, tenangkan ia lebih dulu. Kalau bisa, sekalian beli kopi biar kalian ngobrolnya lebih asik. Katakan saja, apa yang dia pikirkan ada benarnya, tapi bukankah akan lebih menyenangkan kalau kita lihat sisi positifnya juga? Kamu bisa kasih contoh atau gambaran apa saja hal-hal yang akan terjadi jika ia berpikir positif. Katakan kalau segala sesuatu itu tidak selalu berakhir mengerikan. Bilang juga kalau melihat sesuatu dari sisi positif juga membuat tubuh lebih sehat dan membuat dia lebih mudah dapat jodoh.

Kedua, ajak dia buat ikut seminar-seminar motivasi. Otomatis di dalamnya akan ada jutaan kata-kata positif yang akan nempel di kepala dia. Dengan begitu, pikirannya akan mulai terbuka. Matanya akan menjadi berbinar, dan semangatnya mulai membara. Pokoknya, nggak usah bosen-bosen buat ngajakin dia melakukan hal-hal yang positif. Once more, lingkungan sangat berpengaruh pada pikir dan kepribadian.

Ketiga, ajak ia untuk menuliskan life goals. Tuliskan secara rinci, hal-hal apa saja yang ingin dicapainya sekaligus dengan cara bagaimana ia meraihnya. Dengan demikian, perlahan dia nggak bakalan takut lagi melangkah. Dia bakalan sadar kalau ada mimpi yang harus diperjuangkan.

Jadi, teman yang pesimis itu enaknya dikasih dukungan dan pengertian. Kita nggak perlu ninggalin dia gitu aja. Percayalah, dengan membantu dia menjadi sosok yang optimis, kamu sudah mengubah satu dari sekian teman kamu menjadi lebih baik.

Catatan:

Membuat seseorang menjadi punya pikiran optimis itu sah-sah aja. TAPI, ajarkan juga untuk berpikir benar, ya. Jangan sampai kamu nyuruh dia optimis menjalani hubungan dengan seorang psikopat atau tipe-tipe mengerikan lainnya.

 

Berikan komentarmu