Seluk Beluk Mak Lampir: Sosok Legend dan Horor di Tahun 90-an

Spread the love

Dari sekian banyak aktivitas uji nyali anak 90-an, menonton sinetron horor menjadi yang paling lumrah dilakukan. Nggak perlu ongkang-ongkang kaki pergi ke rumah angker, apalagi nekad baca jampi-jampi. Cukup duduk manis di depan tv, dan kamu sudah bisa merasakan seperti ada yang memperhatikan. Tontonannya sendiri biasanya yang hits pada masanya, salah satunya yang menayangkan sosok Mak Lampir.

Mak Lampir sendiri menjadi sosok mengerikan yang sering tampil di layar kaca. Ia bermain dalam sinetron berjudul Misteri Gunung Berapi. Yang menjadi ciri khasnya adalah suara tawanya yang begitu melengking. Ditambah lagi dengan tampilan rambut putih panjang yang gimbal dengan tongkat kesayangannya yang nggak bersahabat bagi anak kecil.

Sinetron Misteri Gunung Merapi sendiri diambil dari kisah rakyat. Legenda tersebut menceritakan tentang sosok Mak Lampir yang dikurung di peti mati. Dalam peti tersebut, ada ayat Alquran yang ditulis oleh Kyai Angeng Prayogo, utusan Sunan Kudus. Perintah tersebut datang pada Sunan Kudus dari Raden Patah, yang tujuannya untuk menumpas ajaran sesat Mak Lampir.

Mak Lampir punya kekuatan meramal lewat mangkuk yang berisi air. Kekuatannya itu memudahkan dia mengetahui apa yang terjadi di istana Raden Patah. Suatu ketika, Mak Lampir dengan Kyai Ageng Prayogo terlibat dalam pertempuran. Untuk memenangkannya, Mak Lampir meminta bantuan pada Ratu Pantai Selatan, Gusti Roro Kidul. Sang Ratu menyetujuinya dengan syarat Mak Lampir harus mengorbankan tujuh bayi suci demi mendapatkan cambuk sakti.

Sosok Mak Lampir sendiri diperankan oleh Farida Pasha. Ssuara tertawanya yang khas memang terdengar menakutkan. Suara tersebut mulai viral saat diperdengarkan melalui sandiwara radio berjudul sama. Sandiwara radio pada saat itu memang jadi media favorit pada era 80 hingga 90-an. Pada akhirnya, legenda Misteri Gunung Merapi tayang di televisi pada Februari 1999 silam.

Pada versi radionya, Mak Lampir disulih suarakan oleh Asriati. Suara tertawanya yang ngeri-ngeri sedap itu pada akhirnya terngiang-ngiang sendiri di telinga para pendengar. Farida Pasha yang memerankan karakter Mak Lampir versi sinetronnya pun rupanya tidak kalah seram dalam menciptakan suara khas Mak Lampir. Saking melegendanya, sosok mak Lampir masih terkenang hingga sekarang. bahkan sosoknya lebih familiar dibandingkan dengan judul sinetronnya.

Mak Lampir sang putri raja

Mak Lampir sendiri konon bukan sosok khayalan semata. Diceritakan Mak Lampir merupakan seorang putri dari kerajaan kuno, yakni Champa (Chiem Thanh). Kerajaan tersebut disebut-sebut sebagai penguasa daerah yang sekarang termasuk Vietnam Tengah dan Selatan kurang lebih pada abad ke-7 hingga tahun 1832.

Nama asli Mak Lampir sendiri adalah Siti Lampir Maimunah. Legenda tersebut berasal dari Sumatra Barat, teatnya di Kabupaten Agam, Bukit Tinggi, tempat Gunung Merapi berdiri. Mak Lampir sendiri sering dikait-kaitkan dengan kisah 7 Manusia Harimau yang juga berasal dari Sumatra Barat, sebagian Provinsi Bengkulu, dan Lampung.

Sosok Mak Lampir Muda yang Pemalu

Pada usia remaja, Mak Lampir terkenal sebagai sosok perempuan yang cantik, baik hati, namun pemalu. Hingga suatu hari, ia menyukai seorang laki-laki yang dikenal sebagai bangsawan dari alam kegelapan. Sosok tersebut bernama Datuk Panglima Kumbang. Pria tersebut katanya bisa  mengubah dirinya menjadi seekor macan kumbang atau harimau.

Keduanya ternyata saling mencintai. Namun, cinta mereka terhalang restu karena pihak kerajaan Champa mengetahui sang Datuk berasal dari kaum siluman, begitupun sebaliknya. Tidak terima, Mak Lampir memutuskan untuk kabur ke kaki Gunung Merapi. Ia pun bertapa agar bisa memasuki alam siluman dan bertemu dengan Sang Datuk. Namun, usahanya belum berbuah manis.

Alih-alih bertem dengan pujaan hatinya, Mak Lampir malah dipertemukan dengan Nenek Serintil yang pada akhirnya menjadi gurunya. Berkat ajarannya lah Mak Lampir berubah menjdi sosok yang kuat dan sakti berkat aliran hitam Anggrek Jingga.

Nenek Serintil sendiri merupakan pertapa berasal dari pulau Jawa. Ia memuja Batara Kala, sosok dewa yang berwujud raksasa dengan wajah seram.

Cinta berujung apes

Dengan kesaktianyang dimilikinya, Mak Lampir berusaha untuk mencari Sang Datuk kembali. Ia pun menjelajahi alam siluman. Namun, ia malah mendapatkan kabar tak sedap bahwa sang Datuk tewas dalam sebuah pertempuran. Mak Lampir pun nyaris putus asa, hingga akhirnya ia ingat dengan kekuatan yang dimilikinya. Ia sudah belajar ilmu sakti yang bisa membangkitkan kaum siluman yang telah mati.

Namun, kecantikan Mak Lampir lah yang harus jadi tumbalnya. Datuk Panglima Kumbang pun akhirnya hidup kembali meski kecantikan Mak Lampir harus terenggut.

Dengan wajah yang pas-pasan buruk rupa, Mak Lampir berharap Datuk Panglima Kumbang masih mencintainya. Namun siapa sangka kalau pengorbanannya sia-sia. Cintanya kini bertepuk sebelah tangan. Sakit hati, Mak Lampir pun menyimpan dendam terhadap Sang Datuk dan berjanji akan terus memerangi kaum siluman.

Pergi ke Jawa untuk bersekutu dengan jin

Agar bisa menang melawan kaum siluman, Mak Lampir akhirnya meminta bantuan para jin penguasa gunung Merapi di Jawa. Kepindahannya ke pulau Jawa sendiri bertujuan untuk menyempurnakan ilmu hitam yang dimilikinya. Ia pun mendirikan sebuah kerajaan di Gunung Merapi.

Kisah tersebut akhirnya menjadi legenda tersendiri kalai Mak Lampir bisa hidup hingga ratusan tahun dan tak bisa mati. Sosoknya konon sering mengganggu manusia, khususnya pasangan muda-mudi. Akibat legenda itulah Gunung Merapi kini memberikan kesan angker dan menyeramkan.

Baca juga artikel menarik lainnya:

Berikan komentarmu