Share this
Share

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

13 April 2017

Gunung Slamet

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Salah satu gunung yang menjadi bagian dari 7 Summit Indonesia, yaitu gunung Slamet. Ada banyak duka cita dan cerita-cerita mistis ketika kami mendaki gunung yang dijuluki “gentengnya jawa tengah” ini. Julukan itu ternyata diberikan karena gunung slamet adalah yang tertinggi di Jawa tengah, dan sekaligus yang kedua tertinggi di pulau Jawa. Setelah gunung Semeru pastinya.

Titik tertinggi gunung slamet berada di ketinggian 3.428 mdpl (meter di atas permukaan laut). Memang bukan gunung untuk pendaki pemula, tapi untuk mendaki slamet tak harus menjadi pendaki yang pro dahulu. Di antara kami pun ada pula ikut dua orang pendaki yang baru naik gunung. Untuk pendakian kali ini, kami mendaki gunung slamet via bambangan. Alasan kenapa memilih bambangan karena ini merupakan jalur yang paling populer dan tentu banyak sekali informasi yang bisa kita dapatkan dari pendaki laain. Selain itu, jalur bambangan juga jalur yang paling pendek untuk bisa mencapai puncak gunung slamet. Yuk lanjut.

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

6 April 2018 – kami bertujuh berangkat dari Jakarta menggunakan kereta dari stasiun Senen jam 12 siang menuju stasiun Purwekerto. Selama di kereta pun kami bertemu beberapa orang lokal sana yang juga pernah mendaki gunung slamet. Acara bercerita pun dimulai, saling tukar informasi, layaknya anak gunung yang suka ngobrol ngalor ngidul. Mereka mengaku pernah mendaki slamet satu-dua kali. Kami pun tidak sungkan bertanya hal-hal menarik seputar gunung, medan pendakian, mata air, topik-topik pembicaraan anak gunung. Hal yang berbau mistis tentang gunung slamet pun juga tak boleh dilewatkan, kami pun bertanya bagaimana situasi mistis disana.

Sebelum para pendaki senior itu turun di stasiun tujuannya sebelum purwekerto, ia memberi saran begini, “nanti di gunung kalau mendengar suara gamelan, jangan diomongin ya”. Entah nasihat macam apa itu yang diberikan kepada kami waktu itu, namun nasihat itu sebenarnya berguna untuk sebagian dari kami yang…… ah sudahlah, nanti juga tahu kok. Skip.

Tiba disana pukul 5 sore lebih sedikit, setelah briefing sebentar dan bertemu tim yang lain, kami bersiap-siap untuk menuju basecamp menggunakan mobil carteran (sewaan). Berhubung hari sudah menjelang sore, kami putuskan untuk beristirahat sejenak sekalian sholat maghrib di masjid yang tak jauh dari stasiun. Akhirnya jam 7 malam kami berangkat menuju basecamp bambangan.

Basecamp

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Basecamp pendakian jalur bambangan

Basecamp adalah tempat istirahat, checkpoint awal jalur pendakian. Disini para pendaki bisa beristirahat selepas perjalanan jauh dari luar kota (apabila pendaki berasal dari luar) ataupun mereka yang sudah turun. Di setiap gunung biasanya menyediakan basecamp seperti ini, termasuk juga gunung slamet.

6 April 2018, 09:00 PM – Akhirnya kita sampai juga di pos bambangan dengan selamat. Suasana kota yang tidak begitu macet seperti di Jakarta, tak sulit membuat kami terdampar di basecamp dengan kurun waktu sekitar 2 jam. Basecamp bambangan termasuk berukuran besar, bisa memuat beberapa tim yang ingin mendaki keesokan harinya. Terlihat ketika kita datang sudah ada puluhan orang dari berbagai tim yang sudah tak sabar ingin mendaki gunung slamet. Ada pula sebagian tim yang baru ingin memulai pendakian di malam hari.

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Suasana dalam basecamp

Suasana basecamp ramai orang tapi tidak begitu berisik, sebagian sudah ada yang tidur, menghemat tenaga untuk perjalanan jauh esok hari. Ketika sampai, kami pun meletakkan tas carrier (keril) di dalam dan beranjak menuju warung yang ada di sebelahnya. Satu orang dari kami ada yang pergi mengurus simaksi yang seharga 20 ribu per orang.

Jam menunjukan pukul 11 malam, kami pun kembali ke basecamp untuk mempersiapkan peralatan untuk besok, karena kami berniat untuk memulai pendakian di subuh hari sebelum matahari terbit. Supaya tidak terburu-buru, kami menyiapkan peralatan dan baju ganti malam itu juga. Setelah itu kami beristirahat, menyimpan tenaga setelah perjalanan jauh dari Jakarta. Tak banyak waktu yang kami punya untuk tidur.

Gerbang pendakian jalur bambangan

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Gapura hijau, gerbang masuk pendakian gunung slamet via bambangan. Maaf kalau agak gelap karena difoto waktu subuh sebelum mulai pendakian.

Jam 4 pagi kami sudah bangun, dan bersiap melakukan pendakian. Beberapa alat untuk menunjang penglihatan malam, senter, headlamp, semuanya telah siap, carrier pun siap diangkut dan briefing dimulai. Tim kami kini berjumlah sekitar 17 orang, ditambah tim tambahan yang sudah janjian di stasiun purwekerto.

Akhirnya jam 4.25 pendakian pun dimulai, melewati gapura hijau, satu hal terakhir yang ingin kita lihat ketika mendaki, namun hal pertama yang kita lihat ketika turun.

Karena kegelapan malam, headlamp pun sudah dinyalakan, jaket windproof sudah digunakan, dengan baju berlapis lagi dibaliknya. Udara yang begitu dingin sudah masuk menusuk tulang sumsum. Di kiri kanan jalan belum ada penerangan kecuali lampu yang berasal dari basecamp. Semakin melewati gapura, lampu itu pun mulai meredup karena kita semakin menjauh dari basecamp, hingga lampu yang di atas kepala dan di tangan yang menemani perjalanan kami.

Perjalanan awal kita masih disuguhi pemandangan khas pedesaan pada umumnya, sawah-sawah masih terlihat di kiri-kanan dan jalan beraspal yang sudah mulai mendaki. Meskipun gelap gulita, gunung slamet yang elok itu sudah nampak di depan mata, tak sabar rasanya ingin mendakinya dan menapaki jalan setapak di dalamnya hingga ke puncak. Namun sebelum kesana, banyak sekali rintangan yang perlu dihadapi. Tak lama kemudian, Adzan subuh pun berkumandang dari masjid yang tak jauh dari basecamp. Kami pun sholat dengan bermodalkan tayamum, berhubung hampir semua dari kami muslim, sholat pun didirikan terlebih dahulu, tepat di atas jembatan kecil beraspal yang masih tak begitu jauh dari basecamp.

Pos payung (pos bayangan), 1,5 jam

Perjalanan terus berlanjut di tengah kegelapan subuh dengan udara yang menusuk leher sampai bulu kuduk berdiri.

Layaknya anak gunung yang dari awal tak sabar ingin menemukan pos pertama, salah satu orang yang berada di kawanan terdepan pun ada yang teriak-teriak lantang, “Pos satu! pos satu!”. Kami yang masih berada di bawahnya akhirnya bersemangat setelah 1,5 jam berjalan dari basecamp. Namun ketika sudah sampai, pos yang dimaksud ternyata adalah pos payung, yang merupakan pos bayangan sebelum pos 1. Akhirnya kami beristirahat dan melanjutkan perjalanan 7 menit kemudian.

Pos 1 gembirung, 1,5 jam

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Pos 1 gembirung

Kami sampai di pos 1, berubung masih pagi, belum ada yang jualan di daerah sini. Dan tak banyak yang bisa dilakukan di pos gembirung. Kami terus melanjutkan perjalanan menuju pos 2.

Pos 2 walang, 1 jam

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Pos 2

Dari pos 1 ke pos 2, sekitar 1 jam. Dari jarak tempuh itu mungkin sebenarnya bisa dikurangi kalau tidak ada anggota tim kami yang kakinya terluka. Salah satu teman kami kakinya terkilir dan satu lagi perempuan ada yang mengangis di tengah jalan karena kelelahan. Namun kami tetap naik menuju pos 3, walaupun halangan merintang, pokoknya tetap mendaki.

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Capek euy

Pos 3 cemara, 1 jam

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Pos 3 cemara

Tim sampai di pos 3 sekitar jam 10 pagi. kami beristirahat sejenak, ingin rasanya mulai memasak di pos ini, namun kita bersikeras untuk tidak mengeluarkan makanan besar kalau belum jam 11. Perjalanan selanjutnya adalah pos 4 samarantu yang terkenal angker.

Pos 4 samarantu, 1 jam

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Pos 4 Samarantu, artinya hantu yang samar-samar

Tim tiba di pos 4 sektiar jam 11 kurang. Pos 4 samarantu adalah pos yang beda sendiri, dari tempatnya terlihat tidak nyaman untuk ditempati atau pun berlama-lama disini. Untungnya kita sampai siang-siang, kalau sore hari mungkin sudah kelihatan penunggunya. Sebelum masuk ke samarantu, kita bertemu dengan dua pohon yang seperti menjadikannya pintu masuk menuju pos. Kedua pohon itu berdiri tegak seperti pintu masuk ke sebuah area. Kami pun melangkah sambil mengucapkan salam.

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Pohon angker di pos 4

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Masak di pos 4

Pos 5 samyang rangkah, 1 jam

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Pos 5, pos yang cukup luas untuk beristirahat, mendirikan tenda dan ngemil mendoan

Akhirnya tim tiba di pos 5. Salah satu pos yang paling ditunggu pendaki gunung slamet, karena biasanya orang-orang pada membuat tenda di pos 5 kalau tidak mau membuat tenda di pos 4 yang angker. Di pos 5, jajanan khas anak gunung seperti mendoan, gorengan pun disajikan disini. Di pos 5 juga ada rumah shelter yang ukurannya tidak begitu besar. Di pos ini juga satu-satunya tempat mata air di gunung slamet. Jadi sebelum melanjutkan perjalanan, sebisa mungkin kita harus turun menuju mata air untuk mengambil air dari aqua-aqua botol yang sudah kosong dari basecamp.

Pos 6 samyang jampang, 30 menit

Dari pos 5 ke pos 6 jaraknya tidak terlalu jauh, 30 menit kemudian kita sampai di pos 6. Di pos 6 ini tidak banyak yang bisa dilihat, selain pos yang tidak terlalu besar, hanya sebuah lapangan kecil tempat orang bisa mendirikan tenda. Di pos 6 ini juga tidak kelihatan ada yang menjual makanan, tidak seperti di pos 5 yang ada jualan mendoan. Kami pun beristirahat sekitar 10 menit sebelum lanjut menuju pos 7.

Pos 7 samyang kendil, 1 jam

Perjalanan pun dilanjutkan menuju pos 7, rupanya vegetasi menuju pos 7 sudah mulai agak berubah, banyak sekali ditemukan pohon-pohon yang sudah mati meskipun tidak begitu signifikan. Kabut pun mulai menyelimuti keadaan jalur pendakian sampai lumayan tebal. Dengan kabut tebal, udara yang semakin dingin, dan medan pendakian yang sedikit lebih menantang, disini kita perlu ekstra hati-hati untuk bisa mencapai pos 7.

sekitar 1 jam kemudian, kami pun sampai di pos 7. Tempat yang sudah disepakati untuk kami mendirikan tenda, akhirnya usaha pendakian dari bawah sampai kemari sangat membuat hati sedikit tentram. Sport jantung masih terus terdengar karena pendakian yang tak henti-hentinya dari basecamp. Di sore hari itu, hujan masih mengguyur seluruh pos, kami pun mencoba memasuki pondok kecil yang ada di pos untuk sedikit menenangkan diri. Tak banyak waktu yang kami punya untuk mendirikan tenda dan menghangatkan badan, maka dari itu kami bersiap-siap mengeluarkan tenda dan segera memilih tempat camping. Hal ini sangat penting dilakukan, mengingat suhu badan yang sudah semakin turun, takut-takut kalau kelamaan santai, satu dari kita akan terkena hipotermia yang merupakan ancaman para pendaki gunung.

7 April 2018, pukul 6 sore, hujan pun sudah berhenti. Dan akhirnya beberapa tenda sudah kami dirikan, kalau dilihat dari seluruh tim yang kita bawa, total ada 5 tenda untuk seluruh tim kami waktu itu. Setelah tenda didirikan, kami bersiap-siap memasukkan barang-barang ke tenda, dan di bawah flysheet yang sudah kami pasang, takut-takut ada hujan susulan yang bisa mengguyur keril dan sepatu kami.

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Kondisi tempat camping kami di pos 7 gunung slamet

Malam hari pun tiba, waktu yang paling ditunggu ketika camping, yaitu makan malam. Beberapa makanan kami masak sendiri, dan makan bersama di bawah flysheet. Sayang sekali keadaan tempat camping di pos 7 tidak semuanya rata, jadi kita harus pergi ke tenda dari tim yang punya tugas memasak untuk makan malam. Dinginnya malam masih menusuk tulang, padahal waktu itu baju sudah 3 lapis termasuk jaket yang ada di lapisan paling luar. Emang dasar anak muda, malam hari bukannya istirahat untuk persiapan summit besok subuh, tapi kita masih berkerumun di tenda tadi sambil mengobrol dan bercerita seram tentang gunung, di gunung slamet.

Tak terasa waktu berlalu cepat di gunung, makanan jatah malam itu sudah hampir habis dilahap teman-teman yang rakus dan kelaparan. Udara pun sudah makin dingin menusuk tulang ditambah lagi keadaan setelah hujan. Teman-teman yang berasal dari tim lain pun juga sudah menutup tenda, beristirahat. Hanya tinggal tenda kami dengan 8 orang masih mengobrol dengan suara keras sambil tertawa-tawa. Bahkan ejekan dan kata-kata kotor keluar begitu saja kalau sudah mengobrol, seperti rumah sendiri saja, tak sadar kalau kita saat itu sedang ada di gunung. Ha-ha-ha!

Jam menunjukan pukul 10.30 malam, kami pun bersiap-siap kembali ke tenda masing-masing, termasuk saya dan 3 orang lain.

Kejadian mistis di pos 7

Entah karena kelakuan kita di pos 4 atau karena beberapa hal yang tak pantas kita lakukan di gunung saat itu, beberapa dari kita ada yang apes “dikerjai” penunggu gunung slamet. Kita jadi teringat pesan pendaki senior yang ketemu di kereta, kalau mendengar suara gamelan jangan diceritain. Sepertinya nasihat itu cukup berguna karena beberapa dari kami mengakui mendengar suaranya di malam hari saat itu.

Suara gamelan itu datang menghampiri

Jam menunjukan pukul 12 pagi dini hari. Suhu yang dingin dan menusuk tulang sepertinya membuat kita sulit memejamkan mata di malam itu, termasuk saya, kami pun masih terus bercerita di dalam tenda sampai pada akhirnya hanya tersisa saya sendiri yang masih terjaga. Mengingat waktu tidur yang singkat karena harus mendaki puncak subuh hari nanti, saya pun terpaksa memejamkan mata untuk tidur. Alhasil, hanya tidur-tidur ayam yang saya dapat, namun tiba-tiba saja ada satu suara aneh yang datang menuju ke tenda kami malam itu, tak lain dan tak bukan adalah suara musik, yup, suara musik!

Saya yang sudah hampir tertidur, sayup-sayup mendengar suara itu dari kejauhan, namun tak lama kemudian menyadari ternyata suara itu seperti mendekat, asalnya dari bawah. Seperti ada orang yang membawa pengeras suara dari bawah sedang menuju ke pos 7, tapi tidak mungkin, mana ada orang yang menyetel musik seperti itu malam-malam hari, di gunung pula. Saya pun masih terus bertanya-tanya sendiri, teringat beberapa cerita yang saya baca di internet tentang suara musik di gunung. Bulu kuduk pun seketika berdiri ketika saya sadar yang saya dengar itu adalah suara gamelan! ya suara gamelan di gunung, seperti musik jawa kuno khas jawa tengah.

Yang lebih aneh lagi, suara itu seperti tidak jelas asalnya dari mana, kadang menjauh, kadang mendekat, saya pun hanya berdoa dalam hati, mudah-mudahan bukan sesuatu yang bisa mencelakai kami. Saya pun mencolek teman yang ada di sebelah, membangunkannya, apa dia mendengar suara yang sama. Sambil setengah sadar, teman saya menjawab, kalau dia tidak dengar apa-apa. Sontak dalam hati saya terkejut, merinding disko, saya tarik sleeping bag sampai kepala supaya tidak mendengar suara musik gamelan itu, hiii!

Ada yang menangis

Jam menunjukan pukul setengah 3 dini hari, beberapa teman yang tidur di tenda berbeda sudah keluar dan meneriaki kami semua untuk persiapan summit. Membangunkan orang yang tidur di gunung ternyata tidak mudah, banyak sekali mereka yang mengeluh untuk measih mau tidur, mager, pusing kepala, tidak mau summit, dan alasan-alasan lain, terutama mereka yang baru naik gunung. Saya pun memaksa diri untuk bangun, mengambil jaket windproof, headlamp, handphone dan keluar dari tenda.

Udara di luar tenda pagi itu benar-benar menusuk tulang, 5 derajat. Beberapa persiapan logistik pun sudah dibawa oleh tim yang lain. Kami yang sudah siap menuju ke tengah-tengah untuk bergabung dengan yang lain untuk briefing, sambil menunggu mereka yang belum siap. Saya pun menghampiri tim yang sudah siap termasuk orang yang membangunkan kami sambil teriak-teriak tadi. Saat itu masih ada 4 orang dari seluruh tim yang sudah siap, sambil menunggu kami pun mengobrol-ngobrol. Saya tanya bagaimana tidur mereka tadi malam, sebagian ada yang bilang bisa tidur nyenyak, sebagian ada pula yang tidak bisa tidur. Teman yang tadi membangunkan kami setengah 3 sambil teriak-teriak bercerita kalau dia tidak bisa tidur hampir semalaman. Saya pun bertanya kenapa gak bisa tidur. Dia jawab kalau dia ada yang gangguin.

Dia mengaku kalau tadi malam sekitar jam 1, dia mendengar suara cewek yang sedang nangis tepat di luar tendanya, dan suaranya persis di samping teman saya karena dia tidurnya di pojokan tenda. Beberapa dari kita yang mendengar cerita itu nyeletuk, mungkin itu si A yang kakinya masih sakit. Tapi sebenarnya juga tidak mungkin, tenda anak cewek posisinya sangat jauh dari tenda teman saya ini. Selain itu, posisi tempat dia mendengar suara perempuan nangis itu sebenarnya adalah jurang. Jadi suara tangisan itu asalnya dari jurang…..!. Bulu kuduk kami pun berdiri.

Akhirnya jam 3 kurang 10 menit, kami dengan tim lengkap melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung slamet. Hanya tinggal dua pos lagi yang perlu dilewati dan jaraknya tidak begitu jauh.

Pos 8 samyang jampang, 1 jam

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Pos 8, jaraknya sangat dekat dengan pos 7 dan pos 9

Tak banyak yang bisa dilihat di pos 8, daripada kebanyakan istirahat, mending lanjut sampai ke puncak

Pos 9 plawangan, 20 menit

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Pos 9, merupakan pos terakhir sebelum sampai puncak

Dari pos 8 ke pos 9 jaraknya sangat pendek, tak terasa kami pun berada di pos terakhir, yaitu pos 9 sebelum puncak.

Puncak gunung slamet, 1,5 jam

Akhirnya tinggal tantangan terakhir yang harus dilewati untuk melihat puncak gunung slamet. Jalan dari pos 9 ke puncak adalah berupa jalan bebatuan yang menukik dan agak licin.

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Purbalingga dari atas, maaf kalau pencahayaan kurang

Sangat dianjurkan untuk berhati-hati melewati jalan puncak slamet ini. Ditambah lagi, kami yang melaluinya pada waktu dini hari, headlamp di kepala adalah alat wajib untuk membantu pencahayaan. Daripada nyusahin orang, mending bawa headlamp sendiri. Karena jalannya penuh bebatuan, lebih baik juga hati-hati dengan suara-suara batu yang menggelincir dari atas ke bawah untuk mengingatkan tim yang di belakang kita kalau ada batu yang jatuh.

Dan akhirnya, puncak slamet.

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

3,428 mdpl

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Sunrise dari puncak gunung slamet, begitu indahnya!

Packing, persiapan turun ke basecamp, 6,5 jam

Tragedi barang-barang hilang di pos 7, di gunung slamet ada maling?

Ketika turun dari puncak, sebagian orang di tim termasuk saya sendiri menyadari hal yang aneh. Ada barang-barang kita yang hilang ditelan bumi gunung. Padahal ketika muncak, semua orang dari tim kami ikut semua, jadi kecurigaan meminjam barang dalam tim langsung hilang. Barang yang hilang antara lain, 1 jas hujan merk REI, setelan, 1 jas hujan merk consina, sepatu gunung REI, dan dompet salah satu teman saya. Barang-barang hilang kita menyadari ketika waktu packing. Disaat itu hanya tersisa tenda dari tim kami di pos 7, dan tenda yang ada barang hilang adalah tenda saya dan tenda tim yang berada segaris lurus dekat dengan jalur pendakian.

8 April 2018, 4.30 PM – Semua tim sampai di basecamp dengan selamat. Meskipun sebagian mesti ada yang perlu dirangkul dan dibawakan tas carriernya karena kaki lecet-lecet. Tapi semua krew berhasil mendaki sampai puncak dengan selamat. Tak lupa ketika sampai basecamp saya coba rundingkan kasus barang hilang ke penjaga, namun ternyata kami bukanlah orang pertama yang melakukan pelaporan kehilangan barang. Penjaga itu malah seperti membela diri kalau dia tidak mau melakukan sweeping karena alasan inilah itulah, akhirnya kami hanya pasrah mendengar celotehannya yang sangat tidak membantu sama sekali.

Mungkin untuk barang seperti jas hujan, sepatu kami bisa beli lagi, yang kasihan adalah teman saya yang kehilangan dompet di pos 7 gunung slamet. Untuk itu, buat kalian yang mau mendaki gunung ini, maupun gunung apapun itu, berhati-hatilah menjaga barang kalian, terutama dompet, kalau bisa kemanapun pergi dibawa saja atau pakai tas kecil.

Sejak sabtu dini hari mendaki sampai turun lagi ke basecamp hari minggu sore. Dua hari yang sangat melelahkan mendaki gunung slamet, namun rasa puas sudah menaklukan “genteng jawa tengah” ini terbayar sudah. Lautan awan dan sunrise di puncak kita berhasil dapatkan.

Baca juga artikel menarik lainnya:

Berikan komentarmu

Related articles

 #anak gunung #gunung #gunung slamet
Share

Pilihan editor