Mitos Gunung Lawu, Kepercayaan Mistis yang “Ditakuti” Pendaki

Spread the love

Aktivitas pendakian menjadi favorit bagi siapa saja yang mengklaim dirinya seorang pencinta alam. Yang menjadi daya tariknya salah satunya adalah trek gunung yang akan dilaluinya. Sebut saja Gunung Lawu yang punya lima jalur pendakian dengan masing-masing treknya yang menantang. Selain itu, pengalaman yang bakal didapatkan juga nggak kalah seru. Selain suka, biasanya ada duka, yang mana bisa saja ini terjadi pada mereka yang mengalami nasib apes akibat melanggar pantangan saat mendaki gunung.

Berbicara tentang pantangan, tentu nggak terlepas dari mitos-mitos yang beredar disana. Cerita yang dikemas seolah-seolah mistis ini sudah mengakar di kalangan masyarakat setempat, sehingga wajib hukumnya bagi pendatang untuk menghormati kepercayaan tersebut. Namun, beberapa pendaki biasanya acuh nggak acuh dengan aturan tersebut, sehingga nggak heran kalau pada akhirnya mereka ‘digangguin’ dan nggak tenang pas sampai rumah, apalagi setelah tau kalau Gunung Lawu ini juga terkenal dengan keangkerannya. Untuk itu, penting bagi kita untuk mengetahui dan menghomati apa saja yang menjadi kepercayaan masyarakat setempat demi terciptanya kondisi yang aman dan nyaman.

Sebelum ngorek-ngorek mitos Gunung Lawu, ada baiknya kita kenalan dulu dengan Gunung yang satu ini. Gunung Lawu secara administratif berlokasi di dua provinsi dan tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Ngawi dan Magetan, Jawa Timur, dan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Gunung yang terkenal mistis ini memiliki ketinggian 3.265 mdpl dengan status “istirahat”. Dengan tidak adanya aktivitas vulkanik, pendaki atau wisatawan cenderung merasa lebih aman selama bereksplorasi disana.

Pendaki lebih suka mendaki ke Gunung Lawu karena disana terdapat tiga puncak yang menarik. Ada Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah yang merupakan paling tinggi. Ketiga puncak tersebut dianggap sebagai kawasan yang paling sakral di tanah Jawa. Apalagi kalau bukan ada kaitannya dengan legenda Prabu Brawijaya V, yang dipercaya sebagai raja terakhir Kerajaan Majapahit.

Di dalam gunung tersebut, ada Candi Sukuh dan Candi Cetho yang masih ada kaitannya dengan Kerajaan Majapahit. Candi tersebut menjadi saksi menjelang Majapahit koleps sekitar abad ke-15 Masehi. Pada saat itu, Prabu Brawijaya V melarikan diri ke Gunung Lawu. Raden Patah, sang anak yang memeluk agama Islam, mendirikan kerajan baru di Demak juga menjadi alasan kuat mengapa sang Raja memilih untuk pergi. Sang Raja diceritakan pergi ke Puncak Hargo Dalem. Kawasan tersebut akhirnya kini dikenal sebagai pamoksan atau petilasannya.

Mitos Gunung Lawu

Dengan adanya legenda tersebut, Gunung Lawu kini terkenal dengan mitos-mitosnya yang lumayan bikin bergidik. Yang pertama apalagi kalau bukan petilasan Prabu Brawijaya. Menurut keterangan masyarakat setempat, tempat tersebut bukanlah sebuah kuburan yang konon selalu menjadi informasi simpang siur. Sang Raja melarikan diri ke Gunung lawu untuk lolos dari kejaran Raden Patah, dan ia tidak meninggal dunia disana.

Sesampainya di gunung tersebut, tepatnya di Hargo Dalem, sang Raja bertemu dengan sosok yang berada di gunung, yaitu Dipo dan Wangsa Menggala. Wangsa Menggala ini rupanya dipercaya sebagai jelmaan seorang kyai yang sering menampakan diri sebagai burung Jalak Gading. Pada akhirnya, sosok tersebut sering disebut sebagai Kyai Jalak.

Konon, burung tersebut masih ada sampai sekarang. Burung Jalak Gading ini dipercaya selalu menyelamatkan pendaki saat mereka dalam kesusahan atau dalam keadaan tersesat. Ada juga yang mengatakan kalau burung tersebut hanya mau menampakan diri dan membantu pendaki yang baik hati saja.

Masyarakat setempat juga menyatakan bahwa masih ada mitos lainnya terkait Gunung Lawu ini. Gunung ini seringkali dijadikan sebagai tempat Ritual Bulan Sura atau Muharam. Orang-orang tua atau sesepuh sengaja mendaki untuk menuju ke puncak Gunung Lawu untuk meditasi. Menuju kesana tentu saja bukan tanpa tangan kosong. Mereka membawa “persembahan” berupa sapi atau kambing yang nantinya akan disembelih disana.

Menariknya, para sesepuh yang kasarnya punya fisik yang nggak berdaya, masih semangat untuk menuju ke puncak. Bagi mereka, ini nggak sekedar pendakian lalu melakukan meditasi, tetapi juga bisa memepererat tali silaturahmi antar sesama. Kegiatan yang satu ini masih dilakukan sampai sekarang. Mereka percaya bahwa ritual tersebut bisa mengabulkan permintaan.

Mitos yang terakhir apalagi kalau bukan yang paling jago bikin pendaki merinding. Mitosnya tak lain adalah Pasar Setan. Pasar tersebut konon selalu “beroperasi” pada malam Jumat, apalagi Jumat Kliwon. Pasar tersebut sebenarnya tidak bisa dilihat secara kasat mata, namun kita bisa mengetahuinya dengan suara-suara bising disana seperti orang berjualan yang ada di pasar tradisional pada umumnya. Situasi gaib tersebut tentu saja sudah tidak asing di kalangan masyarakat sekitar. Warga sekitar lebih memilih untuk menghormati keberadaan mereka dan berusaha untuk tidak mengusiknya.

Untuk pantangannya sendiri, pendaki tidak diperbolehkan untuk merusak bebatuan yang tertumpuk yang konon menjadi sumber suara pasar setan tersebut. Menariknya lagi,  pendaki yang melewati area pasar tersebut sangat dianjurkan untuk membeli sesuatu dari pasar tersebut. Saat ada suara-suara goib yang meminta pendaki membeli dagangannya, mereka harus melemparkan uang berapapun. Jangan lupa juga untuk memetik daun sebagai bukti jual beli. Kalau kata kita mah bon kali yaaa.. 🙁

Baca juga artikel menarik lainnya:

Mitos-mitos di Gunung Lawu ini semakin menandakan kalau masyarakat setempat masih melestarikan warisan leluhur. Kita sebagai pendatang nggak wajib untuk mempercayainya, namun sangat diharuskan untuk menghormatinya.

Berikan komentarmu