Menonton Film Mariposa Mengingatkanku pada Kisah Cinta Zulaikha

Spread the love

review film mariposa

Setelah sukses memerankan sepasang kekasih dalam film Dua Garis Biru, Angga Yunanda dan Adhisty Zara kembali dipasangkan dalam film Mariposa. Agaknya kesuksesan sebelumnya diharapkan menular pada film selanjutnya. Setelah menonton film Mariposa, satu hal yang melekat erat dalam benakku adalah kemiripan cara Adhisty Zara – yang berperan sebagai Acha dengan Zulaikha – istri Nabi Yusuf dalam mengungkapkan cinta kepada lelaki yang dicintainya. Baik Acha maupun Zulaikha sama-sama agresif dalam mengungkapkan cintanya.

Judul : Mariposa

Sutradara : Fajar Bustomi

Produksi : Falcon Pictures

Rilis : Netflix (4 Maret 2021), Bioskop Indonesia (12 Maret 2020)

Durasi : 118 menit

Di Film Mariposa: Acha dan Iqbal

Jika pada umumnya perempuan dipandang sebagai makhluk yang malu-malu kucing dan laki-laki cenderung lebih to the point, maka di film Mariposa justru sebaliknya. Sosok Acha jauh lebih berani mengungkapkan cintanya daripada Iqbal yang lebih takut untuk mengakui cintanya kepada Acha. Memang benar kata nasihat hikmah, takut dan malu memiliki perbedaan yang sangat tipis. Seseorang merasa takut bisa saja karena malu. Sebagaimana Iqbal yang  takut mengakui cintaya pada Acha karena sikap malu-malu kucing di dalam dirinya.

Sama halnya dengan Zulaikha yang lebih berani menggoda dan mengungkapkan cinta kepada Yusuf. Tampak jelas bahwa genderang feminisme telah lama ditabuh, bahkan sejak zaman Nabi Yusuf.

UKS vs Kamar

Jika Zulaikha hendak memperdaya Yusuf di dalam kamar hingga baju bagian belakang Yusuf robek, maka lain halnya dengan Acha yang ingin menggoda Iqbal di dalam ruang UKS. Ketika Iqbal hendak kabur dari UKS, Acha justru menguncinya hingga dipergoki oleh salah satu guru di sekolah. Meskipun ketahuan, Acha sama sekali tak merasa ketakutan. Acha bahkan mengaku bahwa ia dan Iqbal memang berpacaran. Berbeda dengan Zulaikha yang ketakutan setengah mati atas perbuatan khilafnya. Ketakutan ini wajar-wajar saja, sebab Zulaikha berstatus istri orang, sedangkan Acha berstatus perempuan single yang merindukan kasih sayang.

Akhirnya, Yusuf berakhir di dalam penjara, sementara Iqbal dihukum membersihkan sekolah. Dua-duanya sama-sama mendapatkan hukuman. Yang berbeda adalah nasib para gadisnya, Zulaikha memilih memfitnah lelakinya, sedang Acha dengan setia rela dihukum berdua.

Tak cukup dengan masalah agresivitas, Acha dan Zulaikha juga mirip dalam urusan mendadak ‘dungu’ di hadapan cinta. Dikisahkan Zulaikha rela menghabiskan seluruh harta bendanya demi mendapatkan kabar terupdate tentang Yusuf. Padahal secara logika, apa yang bisa dinikmati dari sekadar kabar? Namun seperti itulah cara kerja cinta, rumit dan misterius. Tak heran jika setiap orang bisa memaknai cinta dengan pengertian yang berbeda-beda. Mulai dari deskripsi “Tai kucing rasa cokelat” hingga “Lautan kan kuseberangi, gunung kan kudaki, dan hatimu kan kumiliki”. Begitu pula Acha yang mendadak melihat kejailan Iqbal sebagai bentuk perhatian.

Pernah suatu ketika Acha meminta nomor handphone Iqbal, lalu Iqbal menyebutkan beberapa digit angka yang ternyata adalah nomor kontak tukang pijat. Dengan ‘dungunya’, Acha malah mengira kejailan Iqbal adalah wujud perhatian. Padahal maksud Iqbal sederhana saja, ia sama sekali tak tertarik untuk berkomunikasi dengan Acha. Agaknya benar yang disampaikan oleh penyair cinta kenamaan, Jalaluddin Rumi bahwa cinta bisa membuat siapapun terlihat ‘dungu’ di hadapannya.

Bahkan bagi orang yang sedang jatuh cinta, hal yang biasa-biasa saja seolah menjadi hal yang teramat istimewa di matanya. Sebut saja seperti saat Iqbal hanya ingin meminjam kalkulator kepada Acha yang diartikan oleh Acha sebagai bukti bahwa Iqbal mulai ada rasa kepadanya. Padahal meminjam kalkulator adalah aktivitas yang bisa dilakukan oleh manusia manapun di dunia ini yang sedang ingin menghitung dengan cepat tanpa perlu ada rasa cinta yang melekat. Tapi hal itu memang lumrah dialami oleh orang yang sedang jatuh cinta.

Perempuan juga bisa lebih kuat daripada laki-laki

Tidak berlebihan jika pepatah menyebutkan bahwa satu di antara orang yang tidak bisa menerima nasihat adalah orang yang sedang jatuh cinta. Berkali-kali Acha mendapat nasihat dari sahabatnya untuk melupakan Iqbal, berkali-kali pula Acha tak bisa menerimanya. Bahkan ketika sahabat Acha mengatakan bahwa seluruh badan Iqbal hanya berisi otak, tidak memiliki hati sekecil apapun. Jikalau ada, maka hati Iqbal telah menjelma menjadi batu. Dengan enteng, Acha hanya menjawab bahwa sekeras-kerasnya batu tetap akan hancur dengan tetesan air yang terus menerus.

Baiklah, mari bersepakat bahwa Acha dan Zulaikha sama-sama gigih dalam memperjuangkan cintanya. Acha yang harus berkali-kali sakit hati menghadapi sikap dingin dan perkataan kasar Iqbal, juga Zulaikha yang harus kehabisan air mata sebab terpisah jauh dengan Yusuf, hingga darah yang harus mengalir dari matanya menggantikan air yang telah habis.

Sejak dulu hingga kini, perempuan juga bisa lebih kuat daripada laki-laki.

Baca juga artikel tentang film lainnya :

Berikan komentarmu