Photo by Alex Green from Pexels

Mengenal Midlife Crisis: Kegalauan Pada Usia 40-an?

Spread the love

Sebagian dari kita yang ada diusia 25-30an mungkin bisa jumawa karena sudah melewati masa-masa keren quarter life crisis. Setidaknya kita nggak perlu khawatir lagi dengan pekerjaan, percintaan, dan hal-hal lainnya yang membuat insecure di masa depan. Namun, sebenarnya kamu nggak boleh santai dulu. Detik ini juga, kamu bakalan kenalan dengan istilah midlife crisis. Bagi yang belum tau dengan istilah ini, gaskeun baca artikel ini sampai habis, ya! Yang udah tau juga baca aja biar waktunya nggak gabut terus mikrin orang yang nggak mikirin kamu. Hmmm.

Photo by Alex Green from Pexels

Midlife crisis atau krisis paruh baya ini adalah hal yang lumrah terjadi pada pria dan wanita usia 45-60 tahun. Krisis ini bisa dibilang sebagai masa transisi dari masa muda ke masa tua yang menyebabkan perasaan tidak nyaman bahkan putus asa. Kok bisa terjadi, ya? Padahal kita udah punya kerjaan enak, pasangan yang setia, anak-anak yang sukses, dan lain sebagainya.

Krisis ini sebenarnya bisa terjadi jika seseorang sudah mulai sadar akan perubahan pada dirinya sendiri. Misalnya, perubahan fisik (hormon) yang berdampak pada emosi dan penampilan seseorang. Seiring berjalannya waktu, penampilan fisik tentu bakalan berubah. Yang awalnya kinclong jadi banyak flek hitam, yang awalnya tegap jadi bungkuk, yang tadinya pakai baju size S jadi L, dan masih banyak lagi. Akibatnya, orang itu malah jadi nggak percaya diri, apalagi setelah melihat orang seusianya yang lebih cantik atau ganteng dari dia.

Midlife crisis juga bisa terjadi jika seseorang mengalami perubahan peran di masyarakat. Di usia yang tidak muda lagi, orang tersebut beranggapan bahwa kondisi fisiknya tidak sekuat saat ia masih muda dulu. Di usianya yang masih produktif, dia bisa melakukan berbagai macam hal sehingga apapun yang dicita-citakan bisa lebih mudah digapai. Untuk itu, ia mulai merasa khawatir dengan cita-citanya yang belum tergapai di usianya yang sudah memasuki kepala lima atau enam.

Terakhir adalah ketidaktahuan tentang fase usia itu sendiri. Sebenarnya, fase ini sangatlah lumrah sehingga seseorang nggak perlu khawatir dengan perasaan tidak nyaman di fase-fase tertentu. Bagi yang nggak sadar dengan kelumrahan ini, tentu mereka akan lebih was-was bahkan bisa membuat keputusan-keputusan yang terbilang ekstrem. Misalnya? Operasi plastik dari atas sampai bawah akibat bentuk tubuhnya tidak seindah dulu. Atau menjual semua aset akibat tidak punya penghasilan akibat pensiun.

Jadi, midlife crisis ini bisa dibilang sebagai fase yang memunculkan keinginan untuk kembali mencari tujuan hidup baru. Seseorang bisa jadi merasa ‘ingin muda lagi’ akibat hal-hal yang menimpanya di masa tua ini. Gejalanya bermacam-macam. Bisa jadi orang tersebut mengalami penurunan berat badan, tidak menjaga kebersihan diri, merasa cemas, pola tidur yang tidak teratur, dan suasana hati yang berubah-ubah.

Midlife Crisis sendiri pertama kali dikenalkan oleh Eliot Jacques pada tahun 1965. Istilah tersebut kemudian dikembangkan lebih luas oleh Psikolog Carl Jung.

Tanda-tanda Midlife Crisis

Sebenarnya, tidak semua orang akan mengalami krisis yang tidak menyenangkan ini. Pasalnya, setiap orang punya cara masing-masing untuk menghayati transisi menuju lansia tersebut. Meski begitu, kamu wajib banget tau apa saja tanda-tanda seseorang mengalami midlife crisis. Simak ulasan di bawah ini sampai habis.

Was-was dengan Karier

Photo by Ketut Subiyanto from Pexels

Saat seeorang mulai was-was dengan kariernya di usia 40-60-an, itu bisa jadi tanda-tanda midlife crisis. Bisa dibilang orang itu jadi lebih ngerasa insecure saat anak-anak muda bermunculan dengan talenta-talenta yang luar biasa. Bisa jadi mereka menggantikan posisinya dan orang tersebut merasa tidak berguna. Untuk meminimalisir perasaan cemas seperti ini, orang tersebut sebenarnya bisa mengikuti pelatihan atau workshop tertentu agar pengetahuan di bidang yang dikuasainya bisa semakin berkembang. Banyak bergaul juga dengan orang-orang yang open minded biar bisa lebih menerima perubahan :).

Terobsesi dengan Penampilan

Penampilan biasanya akan berubah seiring bertambahnya usia. Menjelang usia senja, biasanya kamu akan lebih memilih untuk menggunakan pakaian yang simpel aja. Namun, hal tersebut bisa saja membuat was-was karena penampilannya malah memberikan kesan yang tua (padahal emang udah tua, kan..). Dan ini adalah problem orang-orang yang kena midlife crisis, yang akhirnya memilih untuk menggunakan pakaian anak-anak muda.

Selain itu, penampilan fisik juga seringkali dipermasalahkan. Berat badan yang tidak ideal lagi dan wajah yang mulai keriput bisa membuat seseorang begitu insecure. Mereka selalu berharap kalau kondisinya saat ini bisa seperti muda dulu. Jadinya, mereka malah dandan habis-habisan dan mengeluarkan budget yang tidak sedikit.

Tidak Puas dengan Hubungan Pernikahan

Photo by Terje Sollie from Pexels

Jika seseorang mengalami midlife crisis, dia bisa saja mengalami ketidakpuasan dengan hubungan pernikahannya. Misalnya, merasa bosan dengan pasangan dan kehilangan hasrat seksual. Akibatnya, mereka jadi membandingkan hubungannya dengan rumah tangga orang lain. Perasaan hampa pun tidak bisa dihindari. Bahkan jika tidak dikomunikasikan dengan baik, itu bisa memicu hal-hal yang tidak diinginkan. Perselingkuhan misalnya. Orang-orang yang memutuskan untuk selingkuh biasanya punya kepercayaan diri yang tinggi. Dia menganggap dirinya masih oke sehingga bisa seenaknya mencari laki-laki atau perempuan lain. Jangan sampai deh yaaa..

Merasa Galau Akibat Kehilangan Seseorang 

Photo by Andrew Neel from Pexels

Kehilangan orang terdekat bisa membuat seseorang mengalami midlife crisis. Perasaan hampa mulai terasa hari demi hari, sampai akhirnya kita merasa sangat kesepian. Berdamai dengan kenyataan seperti ini tentu saja sangat sulit, apalagi jika seseorang tersebut adalah orang yang paling kamu cintai. Tidak ada lagi yang menemani makan malam, mendengarkan keluh kesah, dan momen-momen manis lainnya. Akibatnya, orang tersebut akan mengevaluasi lagi apa yang harus ia kejar lagi di sisa hidupnya ke depan.

Kehilangan seseorang tidak hanya sebatas kematian. Kepergian anak dari rumah juga bisa membuat seseorang mengalami midlife crisis, ya. Kalau sudah tau akan seperti ini, kamu yang sudah dan akan menjadi orang tua kemungkinan besar akan selalu menyempatkan quality time dengan si anak.

Khawatir Akibat Kesehatan Menurun

Saat usia tidak muda lagi, kesehatan pun mulai menurun. Akibatnya, kamu akan merasakan beragam gejala penyakit “orang tua” yang jarang-jarang dirasakan pada saat usia muda. Stamina yang rendah juga bisa membuat insecure. Kamu tidak bisa seproduktif dulu lagi yang bisa melakukan berbagai macam hal. Lebih mengerikannya lagi, kamu bisa jadi takut akan kematian. solusinya? Lakukan pola hidup sehat mulai dari sekarang. Sekarang, ya.

Midlife crisis adalah fase yang mungkin dialami sebagian besar orang. Ini tentu saja bukan hal yang sangat menyeramkan jika kamu benar-benar memahami titik yang tidak membuat nyaman ini. Jika tidak bisa mengatasi hal ini sendirian, kamu bisa banget berkonsultasi ke psikolog. Jadi, menurut kamu.. apakah menjadi dewasa itu sulit?

 

 

Berikan komentarmu