via SHUTTERSTOCK/CHAYATA

Melanggar 10 Pantangan Tempat Wisata Ini Bisa Sial Terus?

Spread the love

Mengunjungi sebuah objek wisata tentu saja nggak sekedar beli tiket terus seru-seruan disana. Saat menginjakan kaki di tempat tersebut, pastikan kamu sudah tahu pantangan apa saja yang harus dihindari. Namun, nggak sedikit orang menganggap sepele karena menilai itu hanya mitos belaka. Emang mitos, sih, tapi kan etikanya nggak begitu. Masyarakat setempat disana percaya bahwa mitos tersebut bisa membawa sial bahkan petaka pada pelanggarnya. Jadi, nggak bakal nyesel kalau kamu (sebaiknya) menghormati kepercayaan masyarakat setempat di area objek wisata tersebut. Beberapa pantangan seperti tidak boleh pakai baju A, tidak boleh masuk ke ruang X, dan lain sebagainya pasti pernah kamu dengar. Nah, beberapa pantangan tempat wisata seperti itu juga bisa kamu temukan di sini.

1. Jangan Bawa Pacar Kesini, Bisa Putus – Jembatan Merah Kebun Raya Bogor

foto Istimewa
Jembatan Merah atau Jembatan Gantung Hulu yang ada di Kebun Raya Bogor ini punya pantangan yang katanya bisa bikin kamu patah hati. Konon, jangan sampai datang kesini bareng pacar karena kalian bisa putus. Mitos ini berawal dari legenda yang berkembang di sekitar jembatan Merah tersebut. Dulu, ada lelaki pribumi dan noni Belanda yang berpacaran. Namun, hubungan keduany atidak mendapatkan restu dari kedua orang tuanya. Akibatnya, si Noni Belanda ini bunuh diri dengan loncat dari jembatan tersebut. Sang pria pun melakukan hal yang sama.
Meski mitos tersebut begitu kental, Jembatan Merah ini selalu ramai oleh wisatawan, terlebih sebelum pandemi. Ya, kalau kamu mau membuktikan mitos tersebut, coba dateng kesana sama si doi, ya!

2. Pantangan tempat wisata: Jangan Pakai Celana Pendek – Candi Borobudur

via ANTARA/Anis Efizudin

Candi Borobudur selalu jadi destinasi wisata favorit untuk liburan sekolah maupun bareng keluarga. Sebelum menikmati stupanya, kamu akan diberhentikan oleh p[etugas jika kedapatan menggunakan celana atau rok pendek. Wisatawan diwajibkan berpakaian sopan karena situs candi tersebut juga sering dijadikan sebagai tempat ibadah. Untuk itu, kamu yang udah terlanjur pakai celana atau rok pendek, nggak perlu khawatir. Disana kamu bisa menemukan pos petugas yang menyewakan kain sarung. Pokoknya, patuhi aturan ini kalau nggak mau kena tegor atau mengalami hal-hal yang nggak diinginkan.

3. Tidak Menggunakan Pakaian Warna Hijau – Pantai Selatan

ilustrasi via Twitter.com

Pantangan menggunakan baju berwarna hijau di Pantai Selatan sudah banyak diketahui wisatawan. Kawasan Pantai Selatan tersebut meliputi Parangtritis, Parangkusumo dan Wediombo yang terletak di Yogyakarta, Parang Kursi Banyuwangi, Pantai Watu Ulo di Jember, Pantai Srau dan Kalayar di Pacitan, Pantai Ngliyep di Malang, Pantai Pelabuhan Ratu di Sukabumi dan Pantai Sembakuan Wonogiri.

Orang-orang yang sengaja atau nekad mengenakan baju hijau konon akan terkena sial. Mereka bakal digulung ombak dan jasadnya tidak akan pernah bisa ditemukan. Menurut legenda, baju hijau juga sering digunakan oleh Ratu Pantai Selatan atau yang dikenal dengan sebutan Nyi Roro Kidul.

Di sisi lain, orang yang menggunakan baju hijau sebenarnya akan lebih sulit ditemukan jika ia tergulung ombak. Warna hijau baju akan menyatu dengan warna air laut yang cenderung hijau, jadi proses evakuasi akan lebih sulit. Apapun itu alasannya, mari kita hormati kepercayaan masyarakat setempat, ya.

4. Pantangan tempat wisata: Sesajen Jangan Diinjak! – Bali

via Shutterstock

Yang suka jalan-jalan ke Bali, pasti udah nggak aneh lihat sesajen yang ditaroh di tempat suci, depan pintu, pohon, sekitar pantai, bahkan di pinggir jalan. Sesajen atau Canang sari ini berisi bunga warna-warni, dupa, dan aneka makanan dan sangat dihormati oleh masyarakat Bali karena memiliki nilai spiritual. Canang sari dipercaya sebagai makanan yang disediakan untuk Buta Kala, roh halus yang menjadi penunggu pulau Bali. Ukurannya kecil hanya seukuran telapak tangan saja. Kalau kamu lihat sesajen-sesajen tersebut, jagan sampai membuang bahkan menginjaknya, ya. Konon, kamu bisa tertimpa kesialan.

5. Tidak Mengganggu Burung Jalak Hitam dan Tawon Hitam – Gunung Ciremai

via Pixabay

Saat mendaki gunung, bisa saja kamu berjumpa dengan aneka jenis hewan liar. Salah satu yang bisa kamu jumpai adalah jalak hitam atau tawon hitam, tepatnya di Gunung Ciremai. Kehadiran kedua hewan tersebut dianggap mistis. Burung Jalak Hitam disebut-sebut sebagai binatang penjemput. Ia bisa saja ngikutin kamu, mulai dari Pos Pengalap sampai Seruni. Sedangkan tawon hitam katanya sangat mengganggu pendaki. Jadi, nggak usah ganggu mereka kalau ketemu di Gunung Ciremai.

6. Pantangan tempat wisata: Nggak Boleh Pacaran – Coban Rondo

via SIDOMI

Wisata Air Terjun Coban Rando juga punya pantangan yang sebaiknya dihindari oleh wisatawan. Katanya, orang yang dateng kesini sengaja buat pacaran katanya bakalan ditimpa kesialan. Bahkan masyarakat juga percaya bahwa mereka yang nekad melanggar pantangan bisa nggak jadi nikah meski udah tunangan.

Mitos tersebut konon berawal dari kutukan dari Dewi Anjarwati yang tidak senang meliohat orang lain bahagia di atas penderitaannya. Jadi, meski pemandangan disini indah, nggak usah bawa pacar buat bisa menikmati bersama. Ajak aja teman atau keluarga karena liburan bareng mereka juga nggak kalah asik. Mau bawa pacar juga boleh, sih. Pacar hahal ūüôā

7. Perempuan Nggak Boleh Dateng Sendirian Kesini – Candi Boko

Wisatawan yang datang ke Candi Boko biasanya diperingatkan dengan pantangan ini. Konon, kamu nggak boleh dateng kesini bawa pacar karena bisa kandas di tengah jalan. Selain itu, perempuan juga nggak boleh jalan-jalan disini sendirian karena dia bakalan telat menikah. Padahal tempat ini cakep banget. Lucu aja kalau dijadiin latar belakang untuk pre wed atau sekedar foto-foto biasa.

Btw, pengunjung juga jangan sampai terlalu betah disini sampai magrib. Candi Boko ini terkenal sebagai tempat ‘nongki’ jin yang mana mereka suka ngumpul kalau menjelang magrib. Bahkan, ada wisatawan yang kesurupan akibat kagak bisa dikasi tahu. Disuruh pulang, malah betah disana sampe magrib. Hhu.

8. Sopan dan Jangan Sompral –¬† Desa Trunyan

via nationalgrographic.grid.id/Nesa Alicia
Norma kesopanan jelas harus diterapkan saat kamu mengunjungi situs bersejarah. salah satunya adalah Desa Trunyan, Bali. Desa ini masih kental dengan adat istiadatnya yang tergolong unik. Di sekelilingnya terhampar ratusan tengkorak manusia yang sebenarnya adalah makam bagi masyarakat Desa Trunyan sendiri. Alih-alih dibakar atau ditimbun, mayat tersebut hanya dibiarkan begitu saja di atas tanah, lalu dihalangi oleh bambu agar tidak diserang oleh hewan buas. Uniknya, kamu nggak bakalan nyium bau busuk karena di sekelilingnya terdapat pohon Taru Menyan yang menyamarkan bau tersebut.
Wisatawan dilarang membawa barang apa pun yang berada di kuburan tersebut, sekecil apapun itu. Jangan meludah juga karena itu jelas dianggap tidak sipan. Konon, wisatawan yang melanggar pantangan itu bakal terkena sial.

9. Baju Merah Dilarang Dipakai Disini –¬† Curug Cikuluwung

via explorewisata.com
Curug Cikuwulung Bogor bisa banget ngehipnotis kita dengan keindahan alamnya. Airnya yang jerenih juga sangat menggoda kita untuk terjun ke dalamnya. Meski begitu,kamu harus tahu dulu pantangan yang berlaku di curug ini. Wisatawan tidakdiperbolehkan menggunakan baju berwarna merah, khususnya perempuan. Katanya, dia bisa saja mengalami. Karuhun atau nenek moyang dulu senang sekali mengenakan baju merah, dan tidak ingin orang lain menggunakannya juga. Jadi, mending cari aman aja, itung-itung kamu juga menghargai kepercayaan masyarakat disana. Jadi, mending cari aman aja, itung-itung kamu juga menghargai kepercayaan masyarakat disana.
Selain itu, orang yang punya indera keenam disebut-sebut bisa melihat ukiran indah pada tebing kolam. Pemandangan tersebut berupa  tulisan, lukisan artistik di bebatuan air terjun, dan lukisan kursi-kursi dari kerajaan Mulawarman yang berada di sekitar curug. Kamu yang punya kemampuan ini, bolah lah dicoba.

10. Pantangan tempat wisata: Jangan Sompral Bilang ‘Lada’ – Dago Pakar

via KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG

Saat bekunjung ke Goa Jepang dan Goa Belanda, wisatawan disarankan untuk tidak sompral. Salah satu kata yang dihindari adalah “Lada”. Dalam Bahasa Sunda,¬†lada¬†berarti pedas. Namun, istilah tersebut berbeda arti di kawasan Goa belanda ini. Lada adalah¬†nama seorang tokoh masyarakat yang begitu dihormati, nama lengkapnya Eyang Lada Wisesa. Jika wisatawan sompral mengatakan nama tersebut,m di abakalan mengalami hal-hal mistis. Bahkan ada juga yang sampai kemasukan.

Dengan adanya mitos dan pantangan tempat wisata ini, kita jadi belajar lebih menghargai adat dan istiadat masyarakat setempat di Indonesia. Btw, kamu punya pengalaman melanggar pantangan? Coba tulis di kolom komentar, ya!

Berikan komentarmu