Share this
Share

shares

7 Kesalahan Belajar Bahasa Inggris, Keren Boleh Tapi Jangan Goblok Dong!

14 January 2019

Belajar bahasa Inggris sudah seperti kewajiban seorang individu dan professional di zaman sekarang. Ini bukan masalah bahasa Inggrisnya, namun bahasa yang merupakan alat komunikasi, adalah sesuatu investasi yang amat berguna kalau dipakai dengan benar. Kita tidak bisa menjadi naif kalau banyak sekali kesempatan yang bisa kita jelajahi kalau bisa bahasa asing.

Pernah gak sih kamu mikir kalau kamu itu bisa bahasa Inggris, namun taraf dan kualitas hidup kamu gak maju-maju. Bisa jadi banyak hal, disini saya tidak ingin menjadi subjektif namun yang akan dibahas disini adalah hal teknisnya. Kita akan bahas sedikit tentang kenapa ada orang yang gak bisa membuat manfaat dari skill bahasa inggris yang sudah mereka pelajari selama bertahun-tahun.

1. Menggunakan frasa yang tidak sesuai pada tempatnya

Seperti yang kita tahu, frasa adalah kumpulan kata yang diucapkan seseorang untuk menyampaikan maksud tertentu. Seperti contoh dalam bahasa indonesia, ada frasa “lempar batu sembunyi tangan”. Itu bukan berarti ada orang yang lagi lempar batu di tangan kiri dan sembunyikan tangan kanan. Namanya juga frasa, ada sebuah arti tententu yang tidak secara eksplisit tersirat. Begitu juga dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggris sendiri adalah bahasa tua yang sudah ada sejak lama dari kaum Anglo-Saxon di Eropa.

Namanya juga bahasa tua, pasti banyak customnya, dan tiap negara yang memakai bahasa Inggris pun punya frasa yang berbeda-beda. Apalagi Bahasa Inggris empunya British dan Amerika, pastilah beda juga. Betapa naifnya kalau melihat orang yang suka menggabungkan frasa American English dan British English seenak jidat. Itu udah kayak orang yang nyampurin bahasa jawa sama logat betawi.

2. Cussing! biar dikira keren dan bahasa inggrisnya kelihatan lancar

Sadar atau tidak, banyak orang indo yang suka ngomong inggris meletat-meletot sambil menyisipi kata “bersetubuh” di antara kalimat.

F– that!

F– right!

this F– way!

Ini adalah epidemik, wabah penyakit yang menular dari satu orang ke orang yang lain. Padahal di dunia nyata, orang bule pun mikir 5x kalau mau swearing/cussing. Inilah contoh orang-orang yang ingin kelihatan keren, modis, merasa sangat lancar bahasa inggris karena tahu kata-kata jorok yang mereka dapat dari film hollywood. It’s f— right, yeah!

Sebenarnya mau berapa kali mereka mengumpat seperti itu, gak akan membuat mereka jadi lancar bahasa inggris, yang ada hanya menjadikan mereka kelihatan goblok, polos, dan inferior.

Kalau kata milenial, “INI NAMANYA IMPROVISASI, CONTEXTNYA KAN BEDA!”

Ya, itu namanya cussing goblok!

Tanda Orang Pintar Dan Karakteristik Yang Dimilikinya, Apa Saja?

3. Gak peduli sama grammar kalau lagi nulis inggris, dan gak mau cari tahu yang benar itu seperti apa

Kesalahan saat proses belajar adalah hal yang sangat wajar. Yang gak wajar itu orang yang yang melakukan kesalahan tapi gak mau cari tahu kebenaran. Dalam hal menulis pun semuanya ada aturannya, gak bisa seenak jidat. Okelah, ini bukan masalah grammer, karena orang bule juga gak pernah belajar grammer.

Tapi sekali lagi, bahasa asing adalah “alat komunikasi”. Dan sebuah alat itu gak akan berfungsi dengan seharusnya kalau yang pakai juga gak ngerti-ngerti dan gak mau cari tahu.

4. Terlalu memaksakan diri terlihat fluent dengan berbicara cepat, tapi orang denger gak ada yang ngerti

Setiap belajar ada prosesnya, gak hanya belajar bahasa asing, tapi apapun di dunia ini. Proses dimulai dari yang terkecil atau yang paling mudah, kalau sudah mahir dikit, baru lanjut ke level selanjutnya. Sama juga seperti bermain game, kalau yang buat Mario Bros di level 1 langsung lawan raja, pasti gak akan laku itu game.

Nah, balik lagi ke bahasa inggris. Kebanyakan di lapangan orang cenderung ingin cepat mahir dengan suka ngomong cepat, biasanya orang macam ini latihan dengar lagu-lagu Eminem dan ngapalin liriknya. Kalau orangnya mahir beneran sih gak masalah, namun celakanya ada yang bicara cepat tapi bule pun gak ngerti.

Sekali lagi, bahasa asing hanyalah alat komunikasi, jangan biarkan gengsi mempengaruhi pikiran kamu untuk bisa terlihat mahir dengan bicara cepat dan sok nge-RAP. Ketika kamu mengedepankan bahasa asing sebagai alat komunikasi, kamu akan belajar bahasa itu sebagai alat yang bisa menghubungkan antar manusia, bukan sebagai “alat gengsi” untuk memanjat status sosial.

Jadi kalau ada yang nanya, bagaimana caranya bisa ngomong inggris yang fluent? Lebih baik ngomong jelas daripada maksain ngomong lancar. You don’t speak fluent, you speak well!

5. Fokus dengan logat, kuy pake logat BRITISH, biar NGEHITS!

Yang penting bisa bahasa inggris dan kelihatan keren, begitu kata orang. Beberapa orang pun lebih cenderung pada belajar logat, daripada memahami bahasa baik visual dan non visual. Belajar logat atau aksen sebenarnya tidak masalah, yang jadi masalah orang cepat merasa besar kepala ketika bisa menyebut kata dalam logat British. Padahal orang yang dengerin boro-boro ngerti. Disini saya gak bilang kalau ngomong inggris, gak perlu pakai logat british. Bukan.

Ora Ngarti Cuk!

Alhasil, logatnya pun jadi amburadul dan jauh dari kata keren. Ingin logat british biar ngarep dipuji orang kalau lagi ngomong sama bule di pinggir jalan. Yup, gak ada masalah kok tontonan kamu itu harry potter, game of throne, sherlock holmes dan yang british-british. Tapi gak perlu jadi orang goblok yang ingin belajar aksen padahal bahasa inggrisnya masih kacau gak karuan. Terkadang kita hanya perlu sedikit punya kesadaran untuk mengenal audience kita sendiri. Ngapain capek-capek pake logat british di tanah melayu, yang pada dasarnya gak semua orang familiar.

Gaya kebarat-baratan orang Indonesia yang berlebihan

Saya tidak bermaksud menyinggung orang yang gemar dengan gaya kebarat-baratan. Namun cukuplah menjadi diri sendiri dan tidak terlalu berlebihan dalam “mengagumi sesuatu”. Pola pikir yang terlalu kebarat-baratan dengan memuja-muja negara tertentu karena kebanyakan nonton film, akan membuat bangsa ini bodoh, seperti burung beo yang gemar ikut-ikutan. Kondisi ini sangat persis dengan apa yang terjadi di Indonesia pra-kemerdakaan. Dimana banyak orang Indonesia yang mengagumi kedatangan “BULE” padahal mereka cuma mau nyaplok sumber daya disini.

Saya bukan orang anti-barat atau apapun. Saya kerja pun juga di negara barat, gak mungkin benci sama orang barat. Terlalu mengikuti budaya barat juga akan membuat para milenial menjadi manusia yang inferior, gampang kagum, gampang percaya, kalau ada bule di jalan, langsung senang. Beranggapan kalau bule itu orang pinter, orang berduit, padahal gak tau kerjaannya apa, siapa tau cuma mau nyelundupin ganja ke Indonesia atau cuma bule gembel yang numpang liburan sama nyari cewe. Tapi tetep aja dikagumin, ya soalnya “BULE” dan ngarep bisa ngobrol sama bule, supaya bisa praktekin logat british, supaya ngarep dipuji orang.

Padahal ngomong inggris itu bukan melulu karena aksen, karena aksen itu adalah suatu bentuk dari reaksi lingkungan. Orang eropa aksennya british karena terpengaruh lingkungannya, disitu juga ditunjang dengan faktor sejarah, dialek, kebiasaan, dan lain-lain. Kalau tinggal di afrika selatan ya beda lagi aksennya. Orang kita seolah-olah belajar inggris ingin minta pengakuan. Kalau gak ngomong british gak afdol, ini adalah suatu sifat yang dinamakan inferiority complex.

Kalau orang yang pake logat british karena udah tinggal di lama di inggris sih gak masalah, namanya juga penyesuaian dan adaptasi. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.

Yah tapi susah sih kalo orang udah terbiasa melihara kegoblokan, padahal jaman sekarang daripada melihara goblok dan bego, mending pelihara kambing. Menurut kasino warkop DKI, kambing dipelihara bisa jadi gemuk.

Nah, tapi ini ada orang yang boro2 tinggal di Eropa, mau ngomong inggris aja pake logat british. Semuanya hanya demi menaikan tingkat sosial, mikirin gengsi dan kalau ngomong sama bule suaranya dikerasin biar kedengeran gobloknya, eh maksudnya ngedok britishnya.

Ini ada lagu buat kamu yang asal British 🙂

6. Punya Sertifikat Les Bahasa Inggris adalah patokan

Saya tidak bermaksud menjelek-jelekan orang yang kursus bahasa inggris di lembaga tertentu. Namun setiap manusia itu punya patokan masing-masing dalam membuat ukuran “sukses”. Setiap tujuan pasti punya ekspektasi, dan kalau ekspektasi itu sudah tercapai, maka dia sudah bisa dibilang sukses. Seperti contoh orang yang mengejar sertifikat bahasa inggris dari tempat tertentu. Kalau tujuan mendaftarkan diri di lembaga belajar bahasa asing demi menggapai sertifikat, maka ketika sudah mendapatkannya, orang tersebut cenderung merasa sudah pintar.

Tidak peduli seberapa mahalnya kursus bahasa inggris yang didaftarkan bapak kamu, kalau kamu masih menganggap sertifikat itu adalah barang mahal, silahkan beli sertifikat saja, tidak perlu kursus segala. Secara esensial tujuan kita mendaftarkan diri di tempat kursus adalah untuk mengasah ilmu dan berharap mendapatkan sesuatu yang tidak kita ketahui.

Proses dalam belajar adalah yang paling penting, bukan hasilnya. Tidak peduli sebanyak apa sertifikat/ijazah bahasa inggris kamu, kalau setelah lulus kamu gak bisa pakai itu ijazah dan masih pengangguran. Kasian kan bapak kamu cari duit tapi kamunya masih gak pintar-pintar. Kalau kata bung Rocky Gerung, ijazah itu tanda anda pernah sekolah, bukan tanda anda pernah berpikir.

Kalau orang yang pernah mikir, dia gak peduli sama dia punya ijazah. Orang yang “mikir” itu bakal memanfaatkan segala kekuatan untuk mendapatkan yang dia butuhkan atau yang diinginkan. Gak peduli sama bahasa inggrisnya bisa logat british atau engga. Contohnya youtuber ini : hidayat squad. Dia adalah orang yang kerja di luar negeri, dia gak ngaku jago bahasa inggris. Tapi sekarang udah kerja di Amerika bareng sama keluarganya. Inilah bukti orang yang “mikir” itu lebih potensial daripada orang yang sok2 jago dan bangga sama ijazah.

Orang yang “mikir” itu cenderung lebih mengedepankan bahasa asing sebagai alat komunikasi, bukan alat gengsi. Makanya orang yang “mikir” kayak Hidayat Squad di atas, dia hanya mikir gimana caranya bisa berkomunikasi “dengan baik dan benar”, bukan pake ijazah apalagi pake logat british.

7 Kesalahan Belajar Bahasa Inggris, Keren Boleh Tapi Jangan Goblok Dong!

7. Menganggap dirinya sudah paling pinter, dan orang lain bodoh

Untuk poin ini tidak bermaksud ditujukan terhadap individual atau grup tertentu. Namun secara psikologis orang-orang yang berpikir kalau dirinya sudah mahir atau expert akan sesuatu, cenderung akan berhenti belajar. Ini adalah paradigma yang keliru. Kita tahu yang namanya fase belajar itu tidak ada habisnya. Dan sangat disayangkan sekali kalau ada orang yang merasa dirinya sudah pintar sampai enggan untuk melanjutkan ke tingkat yang seharusnya dia berada.

Kata orang tua, kita sekolah untuk jadi pintar. Mungkin kita mau mendefinisikan dulu apa itu pintar. Seperti apa patokan orang pintar itu? Sebenarnya gak ada ukuran dimana seseorang itu sudah bisa dibilang pintar. Apa definisi pintar? Yang namanya pintar itu harus udah pernah ngapain? Tidak sedikit saya punya teman yang kuliah sana-sini, punya ijazah prestisius. Tapi tetap aja idiot. Mungkin kita harus mempertanyakan kenapa kita harus kuliah dari awal, selain untuk cuma buang-buang duit.

Karena esensi belajar untuk orang yang ingin tumbuh, tak akan ada habisnya. Justru orang yang merasa rendah diri, selalu merasa dirinya kurang, dan akan selalu ada tempat untuk dia terus belajar dan meningkatkan kemampuan. Kalau orang yang sudah merasa pintar, tak akan ada tempat lagi untuk melakukan pengembangan karena dirinya merasa sudah “pintar”. Dan orang lain pun bisa dianggap bodoh.

Untuk orang yang benar-benar pintar, sebenarnya tak ada waktu untuk dia mengaku-ngaku kalau dia sudah pintar. Orang pintar itu biasanya “diakui”, bukan ngaku-ngaku kalau dia pintar.

7 Kesalahan Belajar Bahasa Inggris, Keren Boleh Tapi Jangan Goblok Dong!

Einstein itu pintar diakui orang, bukan dia ngaku sendiri. Tapi kalau orang yang cuma pura-pura pintar dengan bikin status inggris di sosmed, itu cenderung ingin minta pengakuan. Bikin status inggris di sosmed mah anak SD juga bisa. Namun sayangnya hal sepele seperti ini begitu sulit untuk masuk ke frame berpikir masyarakat. Terlalu bergantung sama sosial media juga salah satu faktor yang bikin seseorang itu gak maju-maju. Sosial media hanyalah tentang pengakuan, validasi, hedonisme dan depresi.

Untuk poin ini mungkin terlihat lebih umum, namun poin ini juga bisa digunakan dalam hal mempelajari apapun, bukan cuma bahasa inggris. Jadi, sebenarnya jadi pintar itu gak penting, yang penting bagaimana skill yang kita dapat dan bisa kita kembangkan untuk menjadi sesuatu yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain.

Kalau ada yang ngaku pintar bahasa inggris tapi pengangguran ya sama aja boong. Pengangguran disini bukan berarti jadi karyawan trus kerja di kantor orang. Bisa jadi wiraswasta atau aktivis yang mampu memberdayakan skill bahasa inggris. Bukan pengangguran yang masih minta jajan bulanan sama orang tua. Kasian kan orang tua kamu udah biayain kamu kuliah mahal-mahal, kursus bahasa inggris, tapi kamu masih gak bisa buat mereka bangga.

Yuk, yang mau pintar beneran, gak perlu pamer dan tidak perlu menghina mereka yang belum bisa bahasa inggris. Kalau mau menghina itu menghina ke orang yang sok pintar, bukan ke mereka yang belum pintar. Tirulah cara Robin Hood yang merampok orang kaya untuk membagikan hartanya ke orang miskin. Jangan malah kebalikannya.

Setiap manusia punya kapasitas masing-masing dan setiap orang bisa belajar. Saya pun masih dalam tahap belajar karena saya masih abal-abal juga bahasa inggrisnya. Tapi seenggaknya saya gak goblok dengan sok-sokan make logat british biar dikira pernah ke London dan pecinta klub bola inggris. Yuk, Belajar yang benar dan temukan jati dirimu yang sesungguhnya dari skill yang kamu kuasai.

Stay hungry, stay foolish! Don’t like my writing? don’t read it.

Baca juga artikel menarik lainnya:

Berikan komentarmu

Related articles

 #bahasa #bahasa inggris #eropa #error #goblok #inggris #kesalahan #tips
Share

Pilihan editor