Gaya Hidup Minimalis Bikin Tersiksa, Kata Siapa?

Spread the love

Hati terasa lega jika semua belanjaan di keranjang Sh*pee sudah masuk dalam status pengiriman. Badan tinggal rebahan sambil nunggu kang paket mendaratkan pesanan di depan pintu sambil teriak, paaakeeeet! Nggak sabar rasanya buat unboxing terus dibikin IG Story. Semua temen pasti bakal ngiri karena ‘si aku’ ini bisa belanja banyak, dan mereka jadi tau kalau diri ini banyak duit padahal mah make PayLater. 

Kepuasan membeli barang ini jelas membuat hati ngefly. Sampai akhirnya kita sadar kalau setiap sudut rumah udah nggak sanggup menampung semua belanjaan yang nggak penting. Bahkan semua barang tersebut belum tentu semuanya terpakai. Ujung-ujungnya, kamu cuman bisa menyalahkan ego yang dia sendiri bingung kenapa disalahin. Eh, gimana? Pada intinya, kita harus mengubah gaya hidup yang membuat diri ini menjadi begitu konsumtif. Caranya? Memulai gaya hidup minimalis.

Gaya hidup minimalis dinilai ampuh untuk meredakan pola konsumsi masyarakat yang sudah meradang. Pola hidup yang satu ini bisa membuat kita jadi lebih mudah membedakan barang mana yang lebih memiliki value. Kuantiti barang bukan lagi menjadi prioritas seperti zaman jahiliyah kita dulu. Singkatnya, gaya hidup minimalis ini menjadikan kita untuk ‘mengeleminiasi’ barang-barang yang tidak diperlukan, sehingga hidup bakal jauh dari kata hedon. Hati damai tanpa pusing harus beli apalagi meski banyak duit. Eh.

Gaya hidup minimalis ini tentu tidak serta merta langsung jadi bagian dari hidup kita. Sebagian orang masih kesulitan beradaptasi dengan pola hidup yang bisa menyelamatkan urusan duniawi dan ukhrawi ini. Pasalnya, kecanggihan teknologi masa kini sangat memudahkan kaum doyan belanja untuk check out keranjang belanjaan di e-commerce. Belum lagi iklan-iklan produk yang bertebaran di medsos yang bohong banget kalau sampai nggak tergoda. Hal seperti ini yang membuat pola hidup minimalis sulit tertanam dalam jhiwaa..

Hal yang menyuburkan pola konsumsi lainnya adalah kelatahan kita akan barang murah dan gratisan. Kita nggak bisa meleng dikit saat ada promo buy one get two. Penting ngga penting, yang penting kita punya dulu. Urusan dipakai atau tidak, itu belakangan. Hal seperti ini mungkin terbilang wajar. Barang murah dan gratisan kapan lagi bisa punya, ye kan? Iye, bener. Tapi kamu jadi bakal nggak paham-paham, mana yang emang butuh, mana yang nggak. Fokusmu hanya pada kepuasan saja tanpa tahu itu bernilai apa nggak. Ya gitu lah, udah boros, barangnya nggak manfaat lagi. Wkwkwk 🙁

via Huffingtonpost

Sebagian orang juga nggak tahan dengan gaya hidup minimalis akibat tuntutan sosial. Di beberapa kalangan tertentu, si orang ini kepengen terlihat ‘wah’. Akibatnya, dia banyak berbelanja dan jelas memamerkannya di media sosial. Letak kepuasannya tentu saja pada validasi orang lain. Dia pengen orang-orang mengakui kalau dia itu ‘kaya’, dalam artian mampu beli segalanya. Padahal, orang lain mah belum tentu peduli. Yang ada dia malah heboh sendiri kalau viewernya udah nyampe ribuan. Yes, akhirnya orang lain tahu kalau aku kayaaa!!

Proses menerapkan gaya hidup minimalis ini memang tidak mudah. Orang kerap merasa tersiksa jika ‘dituntut’ memulai gaya hidup serba secukupnya ini. Padahal, memulainya adalah langkah yang tepat karena gaya hidup minimalis ini punya segudang manfaat.

Pertama, kamu jadi punya space luas untuk barang-barang yang lebih berguna. Selama ini, kamar kamu cuman penuh dengan barang yang cuman keren selewat doang. Maksudnya, kita beli barang cuman gara-gara tren, yang ujung-ujungnya malah nggak kepakai. Dengan menerapkan gaya hidup minimalis, kamu jadi punya ruangan yang lebih luas untuk menyimpan barang-barang berguna. Lemari kamu nggak bakalan penuh lagi dengan baju-baju yang cuman kepake buat foto-foto, meja rias nggak bakalan penuh dengan koleksi jepit rambut, dan lain sebagainya. Jika space tersebut diisi dengan barang-barang yang kamu butuhkan, otomatis semuanya akan terpakai. Nggak mubadzir, kan?

Kedua, kamu nggak bakalan punya banyak pikiran. Dengan barang yang lebih sedikit, kamu bisa lebih fokus menggunakan benda-benda tersebut tanpa harus mikir make-yang-mana. Lain halnya kalau kamu punya segudang koleksi barang tertentu. Kamu harus memilih barang mana yang bakal dipake, dan itu lumayan bikin pusing. Selain itu, kamu juga bakal stres kalau ada satu atau dua koleksi tersebut yang hilang.

Ketiga, kamu bakalan selalu ngerasa bersyukur. Dengan menerapkan pola hidup minimalis, kamu hanya akan berfokus pada kesederhanaan dengan memiliki barang secukupnya dan seperlunya. Kenyamanan ini tentu bisa didapatkan jika kamu bisa mengontrol ego untuk tidak terlalu berambisi pada hal-hal materialis.

Keempat, kamu bakalan menghemat lebih banyak uang. Jika sebelumnya kamu nggak bisa menabung, kini kamu bisa menyisihkan sekian persen dari gaji. Nggak ada lagi ceritanya baru gajian langsung jajan di e-commerce, atau bayar tagihan PayLater. Dengan membeli barang-barang fungsional dengan kualitas terbaik, kamu nggak usah beli barang serupa karena kualitasnya memang tahan lama.

via ieyenews.com

Menerapkan gaya hidup minimalis dinilai sangat tepat. Pola yang satu ini membuat kita menjadi effortless terhadap segala sesuatu. Kita bisa hidup lebih nyaman karena letak kebahagiaan kita bukan pada barang, terlebih kuantitinya. Nggak bakalan tersiksa karena ini bukan berarti kamu nggak boleh beli apa-apa. Kamu hanya perlu memprioritaskan mana yang butuh, mana yang pengen. Gimana, siap?

Berikan komentarmu