Dekonstruksi dalam Film Sobat Ambyar: Sakit Hati yang Ditertawai

Spread the love

Judul : Sobat Ambyar
Sutradara : Charles Gozali dan Bagus Bramanti
Produksi : Magma Entertainment
Rilis : Netflix, 14 Januari 2021
Durasi : 101 menit

review film sobat ambyar

Raga Didi Kempot memang telah tiada, tapi tidak dengan karya-karyanya. Lewat lagu-lagu campur sarinya, Didi Kempot – entah disadari atau tidak – telah berhasil mendekonstruksi tentang respons seseorang ketika menghadapi patah hati. Awalnya, makna pusat dari keadaan patah hati tak pernah jauh-jauh dari sikap sedih; hujan tangis; hingga mengurung diri. Patah hati telah umum dimaknai sebagai cerita penuh luka yang akan berujung derita. Mirisnya lagi, patah hati kerap dianggap sebagai penyakit yang sulit ditemui obat penawarnya.

Kini, Alm. Didi Kempot berhasil menampakkan makna yang terpinggirkan bahwa sakit hati sudah saatnya untuk ditertawai dengan cara dijogeti. Kurang lebih seperti itulah pesan yang ingin disampaikan oleh film Sobat Ambyar yang didedikasikan untuk mengenang Alm. Didi Kempot.

Sesuai dengan judulnya, film ini tidak mengisahkan perjalanan Didi Kempot, tetapi perjalanan salah satu Sobat Ambyar (sebutan untuk para fans Didi Kempot) yang bernama Jatmiko dalam memaknai patah hati. Selain itu, keberadaan film Sobat Ambyar juga membantu Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud dalam upayanya menjaga bahasa lokal lewat jargon “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing”. Penggunaan dialog-dialog berbahasa Jawa oleh para tokoh sekaligus lagu-lagu Didi Kempot sendiri yang notabenenya menggunakan bahasa Jawa telah memperpanjang napas bahasa daerah di Nusantara yang konon terancam punah.

Laki-Laki Tak Selalu Menguasai

Pada bagian pembuka film, langsung ditampakkan kerapuhan hati seorang lelaki bernama Jatmiko yang pingsan di tengah konser gegara mengekspresikan sakit hatinya. Alur film selanjutnya menceritakan asal-usul keambyaran hati Jatmiko yang bermula dari pertemuannya dengan Saras, gadis cantik asal Surabaya. Sejak awal film ini sudah berhasil menunjukkan dekonstruksi atas pemahaman umum selama ini bahwa lelaki selalu superior dan perempuan selalu inferior. Melalui Jatmiko, pemahaman umum itu dipinggirkan dengan memusatkan pemahaman baru yang selama ini (sengaja) disembunyikan, yakni lelaki juga bisa menjadi pihak yang dikuasai oleh perempuan.

Dalam hal ini, Saras berperan cukup baik ketika menunjukkan superioritasnya atas Jatmiko. Terlihat dari cara Saras menguasai perasaan Jatmiko yang dikisahkan selalu tak berdaya di hadapan Saras, mulai dari adu pandangan yang selalu kalah hingga segala permintaan Saras yang tak pernah sanggup ditolak oleh Jatmiko. Jika Jatmiko selalu tak berdaya di hadapan Saras, lain halnya dengan sosok Saras yang selalu berhasil ‘menjatuhkan’ Jatmiko berkali-kali. Saras digambarkan sebagai seorang perempuan yang dengan bebas mempermainkan perasaan laki-laki. Dengan mudah Saras meminta bantuan kepada Jatmiko untuk menyelesaikan penelitian dan dengan mudah pula Saras berpaling kepada Abdul ketika tak lagi membutuhkan Jatmiko.

Meskipun telah dengan gamblang dikhianati, Jatmiko kembali berhasil dikibuli oleh tetes air mata Saras yang ingin mengelilingi kota Solo untuk yang terakhir kalinya sebelum kembali ke Surabaya. Dari sini semakin jelas bahwa tangisan perempuan bukanlah sebuah kelemahan, itu justru menjadi sebuah kekuatan. Tak berhenti sampai di sini. Puncaknya, Saras meminta dua permintaan yang salah satunya meminta kehadiran Jatmiko di gelaran wisudanya. Apesnya, Jatmiko mengiyakan permintaan itu dan hasilnya tentu saja sesuai dugaan. Jatmiko terlalu inferior untuk Saras yang superior. Saras meminta kedatangan Jatmiko hanya karena Abdul sebelumnya mengatakan tidak bisa datang, padahal Abdul memang sengaja ingin memberikan kejutan kepada Saras. Lagi-lagi Saras berhasil mempecundangi Jatmiko dengan telak.
Lalu, bagaimanakah nasib Jatmiko? Jawaban memang sesekali perlu dicari, tidak melulu hanya dijelaskan.

Unsur Komedi dan Budaya yang Melengkapi

Sebagaimana yang telah disebutkan sejak awal, bahwa patah hati sudah seyogianya untuk ditertawai. Balutan unsur komedi di dalam film Sobat Ambyar sejatinya juga mengisyaratkan bahwa film dengan cerita patah hati yang ter-ambyar sekalipun tetap mampu dihadirkan dengan jenaka. Seperti saat adegan menangis yang membutuhkan tisu untuk mengusap air mata, namun tak ada tisu yang bisa ditemui, sehingga adegan yang seharusnya mengharu biru berubah menjadi gelak tawa karena air mata yang diusap dengan gombal.

Tak hanya unsur komedi, film Sobat Ambyar juga berhasil mengangkat budaya khas nusantara seperti belangkon (penutup kepala untuk lelaki dari jenis kain batik) dan bahasa pisuhan khas Suroboyoan yang berupa [Cok]. Pada salah satu adegan ketika Jatmiko menemui Saras di Surabaya, seorang tukang ojek yang mengantarkan Jatmiko melontarkan kalimat lucu dengan menggunakan pisuhan khas Surabaya yang berupa: “Mas, cinta yo cinta, tapi gak ngerepotno wong, cok!” Pada akhirnya, film memang menjadi wadah yang potensial untuk mengungkapkan nilai-nilai lokalitas di era yang mulai kecanduan modernitas.

Berikan komentarmu