Share this
Share

shares

Cerita Perjalanan Pendakian Gunung Sumbing Via Bowongso

5 December 2018

Gunung Sumbing adalah salah satu gunung di Jawa Tengah yang punya ketinggian 3.371 mdpl. Gunung ini juga adalah gunung tertinggi kedua di Jawa Tengah, tentunya setelah gunung Slamet. Dia termasuk dalam anggota gunung 3S di Jawa Tengah (Sumbing, Sindoro, Slamet) yang dirindukan para pendaki untuk dinikmati keindahannya. Lokasinya pun masih satu kabupaten (Wonosobo) dengan gunung Sindoro yang merupakan tetangganya.

Gunung Sumbing memiliki beberapa jalur untuk pendakian seperti via Garung (Wonosobo), Cepit Parakan (Temanggung), dan Bowongso (Wonosobo), diantara jalur-jalur tersebut, jalur Garung merupakan jalur paling populer dan terkenal diantara kalangan pendaki. Biasanya orang kalau mau ke Sumbing kebanyakan lewat Garung.

Namun berhubung kami adalah pendaki yang nekat menyukai tantangan, kami pun memutuskan untuk pergi ke jalur yang lain, yaitu jalur Bowongso, yang sebenarnya termasuk jalur pendakian yang paling baru di antara jalur lainnya. Alasan utama kami memilih jalur Bowongso karena beberapa faktor, antara lain jalur ini adalah jalur yang tidak begitu ramai dipilih oleh pendaki, yang artinya membuat jalur ini tidak begitu ramai dibanding jalur lainnya. Karena keramaian waktu pendakian akan berpengaruh dengan tidak kebagiannya tempat ngecamp di puncak nanti. Nah, artikel ini akan menceritakan bagaimana perjalanan kami mendaki gunung Sumbing lewat jalur Bowongso.

Cerita pendakian gunung Sumbing ini saya rangkum menjadi beberapa bagian secara singkat, dari mulai persiapan, berangkat dari Jakarta, sampai pos-pos yang kita lalui selama pendakian.

Packing

Berikut adalah beberapa item wajib (tidak termasuk yang kurang penting) yang saya bawa sebelum pendakian, silahkan disesuaikan untuk kebutuhan masing-masing:

Jakarta, 23 November 2018

Jum’at sore, waktunya keberangkatan. Anggota tim kami adalah 6 orang dan persiapan semuanya sudah dilakukan, kita tinggal melakukan packing ulang dalam tim untuk membagi beban. Tempat kita berkumpul adalah checkpoint di sebuah pool bis pahala kencana yang akan membawa kami semua ke Wonosobo. Kami berangkat dari Jakarta pada jam 6.30 PM.

 

Wonosobo (Terminal bis Mendolo), 12 jam

Sebuah tempat pemberhentian pertama dari Jakarta, yaitu terminal bis Mendolo di Wonosobo. Sebuah perjalanan yang cukup panjang, memakan waktu 12 jam akhirnya telah sampai pada ujungnya.

Pertama kali datang, terminal bis ini cukup luas, dan sudah disediakan pos untuk para pendatang yang ingin beristirahat. Beberapa fasilitas juga sudah disediakan, seperti mushola dan toilet. Meskipun toiletnya masih bayar kepada petugasnya, tapi anggap sajalah itu uang kebersihan. Melepas penat selama perjalanan, kami beristirahat dulu sambil makan, dan merapihkan barang bawaan. Karena jarak dari terminal sampai ke basecamp hanya 1 jam, jadi kami pun bersiap-siap mengganti pakaian untuk langsung mendaki ketika sampai di basecamp.

Basecamp, 1 jam

Setelah turun dari mobil carteran, kami langsung bergegas masuk ke basecamp, mengumpulkan informasi dari ranger.

Jangan lupa untuk melihat peta, memastikan semua pos yang akan dilalui. Hal lain yang perlu diambil informasinya adalah lamanya perjalanan, prediksi cuaca, tempat untuk ngecamp, dan pantangan-pantangan selama pendakian. Informasi bisa didapatkan dari ranger basecamp. Intinya ambil semua informasi sebelum pendakian, jangan sampai ada yang tertinggal. Kalau perlu petanya juga difoto supaya bisa dilihat selama perjalanan.

Hal yang penting lainnya adalah menyamakan frekuensi HT milik ranger basecamp, dengan tujuan agar bisa berkomunikasi selama pendakian. Apabila kalian yang membawa HT, sangat dianjurkan untuk menyamakan frekuensi.

Parkiran Swadas, 30 menit

Keluar dari basecamp, kami pun segera memesan ojek yang akan membawa kami langsung ke puncak parkiran swadas, sebuah checkpoint pertama di gunung sumbing sebelum pendakian yang sebenarnya. Kenapa kami naik ojek dari basecamp, karena estimasi waktu dari basecamp ke parkiran swadas adalah 2-3 jam lamanya. Sedangkan kalau naik ojek hanya memakan waktu 30 menit atau kurang. Sebenarnya tujuan naik ojek supaya kita tidak kebanyakan membuang energi dari awal pendakian, selain itu tarif ojek 1 orang hanya 15 ribu, jadi lebih baik naik ojek dan menyingkat waktu daripada mendaki dari basecamp yang memakan waktu 2-3 jam parkiran swadas.

Akhirnya tiba juga di tempat pemberhentian pertama dalam pendakian gunung Sumbing. Parkiran swadas adalah tempat ojek menurunkan kami satu persatu yang jalan dari Basecamp. Dari sini pendakian yang sebenarnya baru saja dimulai. Setelah berdoa, kami pun mulai berangkat.

Gardu Pandang, 30 menit

Tempat persinggahan kedua, dari parkiran Swadas memakan waktu sekitar 30 menit dengan kondisi jalan santai. Disini ada sebuah tempat yang dinamakan gardu pandang. Mohon maaf kalau fotonya tidak begitu banyak di daerah sini. Disini memang ada sebuah saung atau gardu yang bisa digunakan beristirahat. Pemandangannya pun cukup aduhai walaupun belum berada di ketinggian yang cukup.

Pos 1 – Taman Asmara, 1 jam

Jam menunjukan pukul 11.30, dan matahari sudah di berada hampir di atas kepala. Perjalanan dari tempat persinggahan sebelumnya, memakan waktu kurang lebih 1 jam. Itu pun masih dalam kondisi berjalan santai, dengan timing waktu rata-rata 10 menit berjalan dan disambung dengan istirahat 2 sampai 3 menitan, begitu seterusnya tempo perjalanan kami.

Tak terasa sudah sampai di pos pertama dalam pendakian ini, yaitu pos 1 Taman Asmara. Karena perut sudah keroncongan, kami pun langsung membuka bekal, bersiap untuk makan siang.

Photo by Amal Syahreza

Camp Plalangan, 1 jam

Makan siang kami menghabiskan waktu hampir setengah jam. Karena tak mau sampai di camp malam hari, sehabis makan kami cepat bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Tempo perjalanan masih sama, terkadang kami beristirahat sejenak untuk mengatur nafas dan menyesuaikan tubuh di medan yang lumayan menanjak. Maklum, sudah 4 bulan saya tidak melakukan aktivitas naik gunung, jadi tubuh perlu penyesuaian.

Ditambah lagi, jalur bowongso di gunung sumbing ini ternyata cukup memicu adrenaline. Kebanyakan medannya menanjak dan jarang ada bonus. Beban pun semakin bertambah karena kami perlu membawa air masing-masing 4 liter dari basecamp.

Satu jam berlalu, kami pun tiba di sebuah pos bayangan yang bernama Camp plalangan dengan ketinggian 2249 mdpl.

Sumber mata air, 1 jam

Selepas camp plalangan, perjalanan dilanjutkan demi mendapatkan air yang berada di sumber mata air sebelum pos 2. Air yang sudah kami gunakan untuk memasak dan dikonsumsi selama perjalanan cukup menghabiskan beberapa botol. Botol-botol yang sudah kosong tetap kami simpan, demi mendapatkan gantinya nanti. (Semoga saja).

Dalam perjalanan dari titik ini, kami mulai melihat vegetasi yang sudah berubah, beberapa pohon masih terlihat, namun tidak sebanyak di tempat sebelumnya. Pemandangan lainnya yang menarik perhatian saya adalah banyaknya bekas kebakaran di kiri dan kanan.  Jelas terlihat banyak tunas baru yang tumbuh menggantikan tanaman yang sudah mati.

Gunung sumbing juga terkenal dengan adanya sabana yang indah yang seharusnya bisa kami saksikan di sore hari. Namun sayang dengan keadaan yang masih terbakar, pemandangan yang tersisa adalah sisa-sisa kebakaran dan lahan yang hitam.

Sampai disini adalah sumber mata air satu-satunya di jalur Bowongso gunung sumbing. Namun sayangnya pas kita turun untuk ngambil air, sumber mata airnya lagi kering, jadi terpaksa balik lagi untuk melanjutkan perjalanan.

Pos 2 – Bogel, 30 menit

Melanjutkan perjalanan, kita terus bergerak sampai menuju pos 2 bogel. Lokasi pos 2 yang sebenarnya tidak begitu jauh dari lokasi sumber mata air membuat kita cukup bersemangat. Namun apa daya jalan yang lumayan menanjak pun membuat kami cukup kewalahan.

Sampai pos 2, tak banyak yang bisa dilihat, hanya ada 1 tenda yang sudah dipasang oleh orang yang lebih dahulu. Selain itu, kabut pun semakin tebal, dan udara semakin menusuk tulang. Setelah berbincang-bincang sebentar, kita hampir memutuskan untuk camping di pos 2 saja, karena menurut informasi, pos gajahan sudah cukup banyak tenda dan khawatir dengan medan yang tidak begitu rata untuk dijadikan tempat camping.

Melihat kondisi pos 2 yang alakadarnya, kita juga tidak boleh sembarang mengambil keputusan, kondisi pos 2 yang sangat terbuka juga sebenarnya kurang tepat untuk dijadikan tempat ngecamp. Jadi kita putuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan.

Camp Gajahan, 2 jam

2 jam sudah berlalu semenjak bergerak dari Pos 2 bogel, akhirnya tim kami berhasil sampai juga di Camp gajahan.

Ketika di gunung, entah kenapa waktu serasa berjalan lebih lambat. Namun Alhamdulillah, kami berenam sudah sampai di Camp Gajahan, di ketinggian 2600 mdpl. Ini adalah pos terakhir dalam pendakian kami untuk bisa bermalam dan membuka tenda. Tak ada lagi post yang paling dekat dengan puncak yang bisa digunakan untuk ngecamp selain di Camp gajahan. Sesuai namanya, camp gajahan, berarti tempat yang tidak ada gajahnya sama sekali.

Di tempat ini juga rasa lelah kami pun terbayar sudah, dalam ketinggian ini, kita sudah berada (hampir) di atas awan, pemandangan pun sangat indah dan aduhai disini. Meskipun angin bertiup lumayan kencang dan gemerisik sembari udara dingin yang memberontak masuk ke dalam baju yang kami pakai.

Menikmati sunset di Camp gajahan

Tak pakai lama, setelah istirahat sebentar, kita sudah mendirikan tenda-tenda, takut hujan turun dan suhu udara semakin menurun.

  

Menyaksikan full moon di malam hari

Photo by Rizki Rangkuti

24 November 2018, 6 AM

Meskipun udara menusuk tulang, kami pun bangun dengan ogah-ogahan demi melakukan summit. Dengan membawa bekal seadanya dan air minuman, kami ber-enam bergerak menuju puncak gunung sumbing.

Tanjakan PHP, 1 jam

Pos 3 – Zoro, 2 jam

 

Inilah pos terakhir di gunung sumbing, sesuai namanya Pos Zoro, berarti gak ada Zoronya disana.

Tanjakan Seginjel, 1 jam

Setelah melalui pos 3, inilah rintangan terakhir yang perlu kami lewati untuk mencapai puncak. Namanya tanjakan seginjel. Saya sendiri pun kurang tahu artinya apa, tapi kalau dilihat dari medannya, mungkin artinya ini tanjakan yang susah, jadi semakin didaki, semakin seginjel 😀 (ngasal).

Puncak Sejati, 1 jam

Akhirnya kami pun tiba di puncak, sebuah puncak yang dinamakan puncak sejati. Karena sejatinya ini adalah puncak, bukan puncak yang PHP. Semuanya kelelahan selama pendakian pun terbayar sudah. Medan yang curam sudah kami lewati, saatnya mendapatkan apa yang sudah menjadi reward untuk semua pendaki yang tak mau menyerah, yaitu puncak.

Kini kami sudah berada di ketinggian 3371 mdpl. Puncak sejati gunung sumbing terbilang cukup unik, dari sana sebenarnya kami masih bisa mendaki lagi sampai di atas bebatuan yang sekitar 10 meter tingginya. Dari sana pemandangan pun akan terlihat lebih baik. Namun karena medan yang terbilang cukup terjal dan berbahaya, apalagi ditambah hujan yang turun rintik-rintik, kami pun hanya bisa stay di puncak sejati. Lagipula ini adalah sebuah hadiah yang sudah lebih dari cukup.

Akhir kata

Pro tips

Sebelum menutup penulisan tentang pendakian kali ini, saya akan sedikit kasih tips-tips bagaimana kami bisa mendaki gunung sumbing.

Sekian, nanti kalau ada yang saya ingat, saya update lagi.

Baca juga artikel menarik lainnya:

Berikan komentarmu

Related articles

 #anak gunung #gunung #gunung sumbing #sumbing
Share

Pilihan editor