Share this
Share

shares

Fakta Tentang Permukaan Bulan Dan Harrison Schmitt, Astronot NASA Yang Alergi Dengan Bulan

3 June 2017

Saat itu bertepatan pada bulan Desember 1972, dimana misi penjelajahan bulan oleh NASA yang terakhir. Misi yang dilakukan oleh astronot Eugene Cernan dan Harrison “Jack” Schmitt telah sukses melakukan survey di sebuah tempat di bulan yang bernama lembah Taurus-Littrow, sebuah spot yang berada di sebelah tenggara permukaan bulan.

Kedua astronot NASA tersebut mulai membersihkan diri mereka dan bersiap untuk pulang, mereka melepas helm mereka masing-masing. Namun tiba-tiba saja, Harrison Schmitt mulai bersin-bersin dan matanya mulai berubah menjadi merah. Selain itu, ia juga sempat mengidap tenggorokan yang gatal dan hidung yang tersumbat.

“Aku tak tahu kalau aku alergi dengan debu di bulan,” ungkap Schmitt saat itu. Ia mengatakannya melalui radio yang terhubung dengan stasiun NASA di bumi. Dan mereka yang di stasiun mulai membuat lelucon padanya. “Lucu sekali, karena tak ada yang pernah mengecek sebelumnya,” ucap Joseph Allen melalui Mission Control. “Mungkin kau hanya bermasalah dengan hidungmu, Jack.” sambungnya.

Dan pada akhirnya, Harrison Schmitt mengakui kalau dia pada dasarnya alergi dengan bulan.

Fakta Tentang Permukaan Bulan Dan Harrison Schmitt, Astronot NASA Yang Alergi Dengan Bulan

Debu bulan atau Moondust mungkin terlihat sedikit lebih lembut daripada di bumi, namun sebenarnya debu di bulan sangat tajam dan kasar, sebagian dari debu tersebut adalah hasil dari sisa-sisa dampak micrometeorite yang ada di permukaan bulan. Apalagi dengan tanpa adanya air dan dataran tandus di permukaan bulan, debu di bulan tak pernah hilang.

Hampir tidak ada proses alamiah yang terjadi di bulan yang dapat menghilangkan atau mengatasi bahaya dan tajamnya debu-debu tersebut. Ketika ada astronot yang menghirup debu yang pada dasarnya adalah “serbuk kaca halus” tersebut, dampaknya adalah sangat berbahaya. Serbuk tipis yang tajam tersebut dapat menyebabkan kerusakan di paru-paru dan dapat menembus kantung alveolar dan duktus di jantung. Debu bulan ini sama bahaya-nya dengan penyakit “silikosis”, yaitu sebuah kondisi mematikan yang biasanya dapat membunuh mereka yang bekerja di dunia penambangan.

Fakta Tentang Permukaan Bulan Dan Harrison Schmitt, Astronot NASA Yang Alergi Dengan Bulan

Schmitt mendarat di bulan pada bulan desember 1972, tepat di lembah Taurus-Littrow, sebuah tempat yang dikelilingi oleh pegunungan dan bukit-bukit berdebu yang terbentang tanpa batas. Ketika pertama kali melakukan moonwalk (bukan moonwalknya Michael Jackson), ia menaiki roving vehicle (semacam kendaraan untuk di bulan) dan kendaraan tersebut kehilangan spatbor yang mengakibatkan ketika berhenti ia ban kendaraan tersebut tak sengaja menendang gumpalan debu di tanah yang membuatnya beterbangan di udara bagaikan kumpulan awan.

Namun alerginya terhadap debu bulan tidak membuatnya berhenti dari dunia geologi lunar space. Dan berkat karirnya sebagai seorang ahli geologi, Apollo 17 (misi luar angkasa yang saat itu dijalaninya) berhasil mengumpulkan sample batu bulan lebih dari misi Apollo sebelumnya. Ada satu sample batu yang pernah ditemukannya, setelah diteliti berusia 4.2 triliun tahun dan disebut “Troctolite 76535”, yang kemudian membantu NASA membuka satu teka-teki misteri dari medan magnet yang ada di bulan.

Baca juga artikel menarik lainnya:

Berikan komentarmu

Related articles

 #astronot #bulan #nasa
Share

Pilihan editor