9 Penjara Bawah Tanah: Tempat Pilu Era Pahlawan Indonesia

Spread the love

Penjara menjadi tempat yang tidak menyenangkan bagi mereka yang  melanggar hukum. Mereka menjadi merasa dikucilkan, dan dibuat seolah menderita karena tidak bisa bertemu dengan keluarga tercinta. Tapi ini nggak berlaku buat para koruptor yang katanya dikasih fasilitas eksklusif. Bahkan beberapa pahlawan Indonesia juga tidak sedikit yang harus mendekam dibalik jeruji. Sebut saja Bung Karno yang harus dibui selama kurang lebih dua tahun akibat konflik politiknya. Hal yang menarik dari kejadian tersebut adalah lokasi penjaranya yang ada di bawah tanah. Kebayang nggak seseram apa? Terlebih, penjara tersebut juga nggak cuman satu atau dua buah saja di Indonesia, lho. Untuk itu, langsung aja kepoin sembilan penjara bawah tanah di bawah ini.

1. Penjara bawah tanah Sukamiskin, Bandung

Penjara Sukamiskin adalah salah satu bui peninggalan pemerintah Belanda yang masih eksis sampai saat ini. Penjara yang baru beroperasi pada tahun 1924 semulai digunakan untuk tempat bui para kaum intelektual yang diduga melakukan kejahatan politik. Rupanya, presiden ke-1 Indonesia, Sukarno, juga sempat menjadi tahanan di sini dari tahun 1929 sampai 1931.

Penjara yang memiliki 552 sel ini punya gaya khas Belanda yang dinilai lumayan seram. Pasalnya, penjahat-penjahat berbahaya terpaksa ditahan di penjara bawah tanah. Saat ini, penjara bawah tanah tersebut masih terawat dan ada petugas khususnya. Namun, penjara bawah tanah ini tidak boleh didatangi pengunjung dan kini digunakan sebagai gudang penyimpanan.

2. Penjara Kalisolok, Surabaya

Di Surabaya, terdapat sebuah penjara bawaht tanah, tepatnya di Kalisosok. Penjara ini sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda dan diketahui sering menjadi lokasi penyiksaan para pahlawan Indonesia. Sebut saja ada Soekarno, W.R. Soepratman, dan Kiai Haji Mas Mansur yang pernah mendekam di penjara bawah tanah ini. Usai kemerdekaan, penjara ini mulai redup. Tempat para tahanan ini kemudian dijadikan sebagai tempay menampung narapidana politik dan kelas berat di masa pemerintahan Republik Indonesia tahun 1960-1970an. Namun, Kalisolok ini sudah tidak lagi beroperasi sebagai penjagara,melainkan dijadikan lembaga pemasyarakatan.

3. Penjara Bawah Tanah Benteng Fort Rotterdam, Makassar

Kerajaan Gowa Makassar memiliki peninggalan yang dikenal dengan sebutan Fort Rotterdam. Bangunan yang didirikan pada tahun 1545 ini sempat dikuasai pemerintah Belanda akibat adanya Perjanjian Bungayya. Dalam perjanjian tersebut,  Kerajaan Gowa wajib menyerahkan kekuasaan Rotterdam penjajah Belanda. Benteng ini akhirnya digunakan sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur. Rupanya, benteng ini juga difasilitasi dengan penjara bawah tanah. Bahkan, Pangeran Diponegoro pernah mendekam di penjara ini.

Benteng Rotterdam ini letaknya ada di pinggir pantai, sebelah barat Kota Makassar. Hingga saat ini, kita masih bisa melihat Benteng Rotterdam dengan kondisi yang sangat terawat.

4. Lawangsewu, Semarang

Lawang Sewu dulunya digunakan sebagai kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Gedung ini selesai dibangun pada tahun 1907. Bangunan yang berlokasi di Bunderan Tugu Muda ini memiliki sebuah ruangan bawah tanah yang semula dijadikan sebagai penjara. Namanya adalah Penjara Jongkok. Dinamakan demikian karena ruangan tersebut begitu sempit dengan atap yang tidak tinggi. Untuk itu, para tahanan diharuskan untuk jongkok, itung-itung sebagai hukuman. Mereka yang pernah mendekam di penjara ini adalah para pemuda Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap penjajah Jepang. Jika tahanan tersebut meninggal dunia, mayatnya akan dibuang ke sungai yang ada di sebelah gedung. Penjara ini sekarang tidak beroperasi dan menjadi suguhan bagi wisatawan.

5. Penjara bawah tanah Museum Fatahilah, Jakarta

Museum Fatahillah dulunya difungsikan sebagai Gedung Balai Kota dimana Gubernur Batavia di zaman Belanda masih berkuasa di Indonesia melaksanakan tugasnya. Sedangkan, museum ini sekarang digunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang peninggalan kolonial dan terbuka untuk umum. Wisatawan jug alebih tertarik dengan penjara bawah tanah yang ada di museum ini.

Penjara ini dikenal sangat mengerikan. Untuk penjara wanita, ruangan tersebut hanya berkukuran 6×9 meter dan digenangi air begitu saja. Ngerinya lagi, ruangan tersebut diisi oleh 40-50 tahanan tanpa diberi asupan makanan. Untuk itu, nggak sedikit dari mereka meninggal dunia sebelum maju ke meja sidang. Sedangkan untuk penjara laki-laki, ruangannya lebih luas, namun semua tahanan kakinya harus diikat dengan bola-bola berat agar tidak kabur. Bahkan, kabarnya Cut Nyak Dhien pernah merasakan penderitaan di penjara ini.

6. Penjara bawah tanah Benteng Marlborough, Bengkulu

Benteng Malborough adalah benteng yang dibangun The British East India Company yang tuntas pada tahun 1719. Benteng peninggalan Inggris ini lokasinya ada di Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu. Bentuknya cukup unik, yaitu berbentuk segi empat denga panjang 240 meter dan lebar 170 meter. Kita bisa melihat lorong benteng tersebut di bagian barat daya. Sedangkan di sebelah kirinya ada tujuh ruangan, yang salah satunya adalah penjara bawah tanah. Kondisinya jelas gelap gulita. Konon, di salah satu ruangan penjara tersebut ada “tembok berdarah”. Coretan pada tembok tersebut tak lain adalah curhatan seorang tahanan Belanda yang tidak tahan dengan penderitaannya disana. Ditulisnya jelas pakai darah. Seram, ya..

Baca juga arikel menarik lainnya:

7. Benteng Vastenburg, Solo

Benteng Vastenburg dulunya berdiri megah, namun sayang kini kondisinya tidak terawat. Benteng in idulunya berfungsi sebagai penghubung Solo-Semarang. Salah satunya adalah saat Solo menjadi pusat perdagangan yang ditandai dengan kota kolonial yang berkembang begitu pesat dalam periode abad ke 18-19. Dalam bangunan tersebut, ada sebuah bungker yang dijadikan sebagai penjara bawah tanah. Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa bungker tersebut digunakan sebagai ruangan perlindungan dan tempat menyimpan senjata.

8. Penjara Bawah Tanah Benteng Pendem, Cilacap

Benteng pendem adalah salah satu benteng peninggalan Belanda yang berlokasi di kota kecil, Cilacap. Benteng tersebut semula difungsikan sebagai benteng pertahanan tentara Hindia Belanda saat harus melawan Bangsa Indonesia pada tahun 1861. Dan sekarang tempat ini dijadikan sebagai objek wisata, yang mana kita juga masih bisa menjumpai beberapa ruangan bersejarah di dalamnya.

Benteng seluas 6,5 hektar dilengkapi dengan beragam fasilitas, mulai dari terowongan, landasan meriam, barak, ruang dapur, ruang senjata, gardu pos, kolam pemancingan, tempat istirahat, gazebo, dan penjara bawah tanah. Benteng tersebut katanya dibangung oleh pekerja rodi pribumi. Kalau para pekerja tersebut sudah kelelahan atau tidak produkif lagi, mereka akan menjadi tahanan, bahkan ada yang sampai meninggal dunia.

Berikan komentarmu