9 Mitos Wisata Dieng, Dongeng Klasik dari Negeri di Atas Awan

Spread the love

Dieng menjadi salah satu destinasi wisata yang bisa banget memanjakan wisatawan. Di dalamnya terdapat suguhan objek wisata dengan daya tarik berupa keindahan alam yang bisa dinikmati dari ketinggian. Untuk itu, nggak heran kalau Dieng ini sering dijuluki Negeri di Atas Awan. Dibalik keindahannya tersebut, tersemat juga beberapa mitos yang berkembang di masyarakat. Ada cerita inilah, aturan tidak boleh begitulah, dan masih banyak lagi. Untuk itu, sebaiknya ketahui dulu beberapa mitos wisata Dieng di bawah ini sebelum menginjakan kaki ke Tanahnya Para Dewa ini.

1. Goa Pengantin di Telaga Warna

Dieng disebut-sebut sebagai tempat bermukimnya para dewa dengan adanya goa yang bertebaran disana. Untuk itu, goa-goa disana terkenal dengan mitosnya, salah satunya adalah Goa Pengantin atau disebut juga dengan Couple Cave. Goa yang berlokasi di area Telaga Sarangan ini menyimpan mitos yang cukup kuat. Katanya, siapa saja yang mendatangi goa ini bisa segera mendapatkan jodohnya. Bagi para jomblo yang mempercayai mitos tersebut, mereka akan berbondong-bondong datang kesini. Namun, mereka nggak hanya sembarangan datang ke goa saja, tapi harus melakukan beragam ritual, salah satunya bertapa. Kalau dirasa ribet, tidak perlu memaksakan. Cukup minta pada Tuhan saja yang terbaik 🙂

2. Mitos Wisata Dieng Buah Carica

Carica merupakan salah satu jenis buah yang hanya bisa kamu temukan di Dieng. Jika sekilas, bentuknya mirip seperti buah pepaya, hanya saja bentuknya yang lebih kecil. Saat disantap, buah Carica ini rasanya manis sekali, namun tidak seperti buah pepaya. Pohon hanya bisa tumbuh di kawasan dengan ketinggian mencapai 1.500-3.000 mdpl.

Yang menjadi mitosnya adalah buah tersebut akan tumbuh menjadi pohon pepaya biasa jika ditanam di kawasan yang lebih rendah dari itu. Untuk membuktikannya, kamu bisa datang langsung ke Dieng dan mencicipi buah unik yang satu ini.

3. Mitos Wisata Dieng Danau Telaga Warna

Danau Telaga Warna punya penampakan alam yang cantik, baik itu dinikmati dari dekat maupun dari Bukit Sikunir. Seketika kamu bakal terpesona dengan warna telaga yang bisa berubah-ubah itu. Namun, kamu mesti tau kalau objek wisata yang satu ini juga menyimpan mitos yang sudah berkembang di masyarakat.

Dulu, ada seorang Putri dari kerajaan Kutatanggeuhan yang diberi hadiah oleh sang prabu. Namun, sang putri ini tidak menyukai kalung tersebut dan akhirnya melempar kalung tersebut hingga permatanya berserakan di lantai. sang ratu dan penghuni istana merasa sedih dengan perilaku sang putri dan mereka semua menangis. Tangisan mereka konon sampau sampai memenuhi istana dan tiba-tiba saja dari dalam tanah pun keluar air yang sangat deras. makin lama makin banyak. Sampai akhirnya kerajaan Kutatanggeuhan tenggelam dan akhirnya munculah sebuah danau yang sangat indah yag sekarang dikenal dengan Telaga Warna. Warna telaga yang berubah-ubah itu konon berasal dari permata kalung sang putri yang berserakan.

4. Kawah Sikidang

Kawah Sikidang juga menjadi salah satu objek wisata yang terkenal dengan kisah mitosnya. Kawah yang lokasinya berdekatan dengan Candi Arjuna ini konon terbentuk akibat tewasnya pangeran Kidang Garung. Ia harus dikubur hidup-hidup atas perintah putri. Awalnya, putri jelita bernama Shinta Dewi ini memiliki syarat untuk calon suaminya, yaitu harus bergelimang harta. Pangeran Kidang Garung adalah salah satunya yang memenuhi suarat sang putri. Sayangnya, pangeran ini memiliki tubuh setengah kijang, sehingga Shinta Dewi membunuhnya. Jasad sang pangeran konon berubah menjadi kawah yang kini dikenal sebagai Kawah Sikidang.

5.Kawah Candradimuka

Kawah Candradimuka terkenal dengan kisah mitosnya yang terkenal di kalangan masyarakat. Katanya, tempat ini menjadi spot berendam Gatot Kaca yang merupakan sosok kesatria dengan kekuatan luar biasa. Meski sudah punya kekuatan super, Gatot Kaca sengaja direndam di air kawah yang sangat panas. Menariknya, ia sama sekali tidak merasa kesakitan, malah kekuatannya semakin bertambah. Dengan demikian, munculah asumsi bahwa kawah ini menjadi sumber kekuatan yang pernah membuat Gatot Kaca semakin kuat dan tidak terkalahkan. Karena ini hanya mitos, jangan coba-coba nyebur lah…yang bener ajaaa 🙁

6. Anak berambut gimbal

Saat kamu berwisata ke Dieng, jangan kaget kalau disana banyak anak-anak yang berambut gimbal. Kalau masyaralat disana menyebutnya dengan sebutan anak gembel. Rambut gimbal ini bukan semata-mata turunan atau sengaja dibuat seperti itu ke salon. Rambut tersebut konon terbentuk secara tiba-tiba saat mereka masih balita dan akan dipotong di upacara khusus saat remaja. Menurut mitos, anak-anak berambut gimbal tersebut adalah titipan Kyai Kolo Dete yang pada abad ke-14 diberi amanah menyebarkan Islam di daerah Dieng. Ia punya misi untuk menjadikan masyarakat Dieng sejahtera dan indikator keberhasilannya adalah anak-anak berambut gimbal.

7. Mitos Wisata Dieng Kawah Sileri

Selanjutnya ada kawah Sileri yang juga terkenal dengan kisah mitosnya. Dulu, ada seorang nenek sihir yang diceritakan bertapa di sebuah gunung untuk meningkatkan ilmunya. Selama dalam perjalanan, nenek tersebut memegang tongkat wasiat di tangan kanannya dan tempurung berisi air leri atau cucian beras di tangan kirinya. Air leri tersebut katanya digunakan untuk membunuh siapa saja yang menghambat perjalanannya.

Saat di perjalanan, nenek itu tersandung sebuah batu, yang merupakan Putri Mala, murid sang nenek yang dikutuk jadi batu. Air leri yang dipegang si nenek akhirnya tumpah dan area tersebut berubah menjadi Kawah Sileri. Putri Mala sendiri menjadi hidup lagi dan bertarung dengan nenek itu hingga sang penyihir tewas.

Baca juga artikel menarik lainnya:

8. Batu Ratapan Angin

Desa Dieng Wetan emmiliki salah satu objek wisata yang menarik perhatian, namanya Batu Ratapan Angin. Batu-batu disini berukuran besar, dan eksis di hampir di semua jalur setapak yang dilewati. Batu-batu tersebut terbentuk dari proses alam, sehingga bentuknya berbeda-beda.  Salah satunya yag paling besar ada di puncak bukit yang disebut Batu Ratapan Angin.

Menurut mitosnya, batu tersebut adalah wujud dari  pria dan wanita yang pada waktu itu terlibat perselingkuhan. Saat itu, ada sepasang suami istri yang hidup harmonis, namun tiba-tiba harus retak akibat sang istri tergoda lelaki lain. Sang suami sendiri yang memergoki langsung perselingkuhan tersebut. Sang suami murka, dan sang istri berusaha meminta maaf. Namun, sang selingkuhannya ini malah menantang si suami perempuan tersebut.

Akhirnya, sang suami mengeluarkan jurus angin puting beliung, hingga pohon-pohon bergoyan keras disertai dengan angin yang bergemuruh. Ia lalu mengucapkan mantra yang membuat sang istri dan selingkuhannya berubah menjadi batu. Dan sejak saat itulah batu tersebut dikenal dengan Batu Ratapan Angin.

Di tempat tersebut sering terdengar suara angin yang menderu-deru. Katanya, itu adalah suara sang istri dan selingkuhannya yang menyesali perbuatannya.

9. Mitos Wisata Dieng Sumur Raksasa Jalatunda

Yang terakhir ada Sumur Raksasa Jalatunda yang berlokasi di Desa Pekasiran Batur, Kabupaten Banjarnegara. Untuk bisa sampai disini, kamu mesti menaiki kurang lebih 257 anak tangga. Namun, rasa capek itu bakal terbayar dengan suguhan pemandangan di ketinggian, plus keindahan sumurnya itu sendiri. Sumur ini punya kedalaman 100 meter dan airnya berwarna hijau. Kamu tidak bisa nyebur ke dalamnya, ya..janan maksa 🙁

Sumur ini juga menyimpan mitos tersendiri. Katanya, siapa saja yang bisa melempar batu hingga dasar sumur, apapun yang diinginkannya bakal terkabul.

Berikan komentarmu