9 Fakta Kampung Naga: Permukiman Adat Sunda di Kota Resik

Spread the love

Kalau ditanya objek wisata hits apa saja yang ada di Tasikmalaya, jawabannya tentu banyak sekali. Namun, kalau kamu mau jalan-jalan sekaligus mempelajari tradisi adat Sunda, Kampung Naga jawabannya. Permukiman yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya ini dihuni oleh sekelompok masyarakat yang masih memegang erat adat istiadat leluhurnya. Hal tersebut bisa diketahui dengan mudah, mulai dari aktivitas warga, bentuk-bentuk bangunan rumah, dan tradisi-tradisi lainnya. Menariknya, kampung ini bisa dibilang sama sekali “tidak tersentuh” dengan hal-hal berbau modernisasi. Biar nggak semakin penasaran, langsung aja simak sepuluh fakta Kampung Naga di bawah ini.

1. Masih Memegang Erat Tradisi Leluhur

Masyarakat di Kampung Naga diketahui masih memegang erat tradisi leluhurnya. Meski mayoritas beragama Islam, mereka tetap melakukan beragam tradisi dan budaya yang diturunkan oleh leluhur. Sebut saja upacara Hajat Sasih, yang biasa digelar pada saat Hari Raya Haji setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Warga setempat meyakini kalau upacara tersebut hampir mirip dengan upacara besar Islam seperti Idul Adha dan Idul Fitri. Selain Upacara Hajat sasih, ada juga tradisi panen padi yang hasilnya lebih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama setahun, alih-alih menjualnya ke pihak lain.

2. Fakta kampung naga: Bangunan Rumah Masih Tradisional

Bangunan rumah perkampungan ini juga masih tradisional. Saat berkunjung kesana, nggak usah heran kalau desainnya hampir seluruhnya sma. Bangunan-bangunan tersebut dibangun menggunakan bahan-bahan alam seperti bambu dan kayu. Untuk atapnya sendiri mayoritas menggunakan daun nipah, ijuk, dan alang-alang.

Hal yang menarik lainnya adalah bangunan-bangunan rumah tersebut harus mengikuti aturan dari leluhur. Rumah hyanya bisa menghadap ke timur dan barat. Jumlahnya ada 113 rumah termasuk bale kampung dan masjid. Bentuk bangunannya sendiri dikenal dengan sebutan atap cagak gunting.

3. Menjalani Pantangan

Karena masih kental dengan adat istiadatnya, nggak heran kalau sluruh masyarakatnya begitu menghindari pantangan. Pantangan tersebut tak lain adalah ketentuan hukum tidak tertulis yang diturunkan oleh leluhur mereka. Sebut saja adala larangan mengambil ikan dengan racun, mencuci pakaian atau piring di sungai dengan sabun, menebang pohon di hutan, masuk ke hutan larangan, dan masih banyak lagi. Namun, pantangan tersebut jelas bukan lagi hal yang aneh bagi warga setempat. Dengan hidup berdampingan dengan pantangan atau mitos tersebut, masyarakat bisa lebih mudah melestarikan lingkungan tanpa harus dipajang, “Dilarang mengambil ikan dengan racun”.

4. Simbol Identitas Berupa Tugu Kujang Pusaka

Ada satu hal menarik yang ada di Kampung Naga. Disana, kamu bisa menemukan Tugu Kujang Pusaka (senjata tradisional khas Sunda). Tugu tersebut merupakan identitas dari kampung ini. Nilai dan filosofi yang terkandung dalam tugu tersebut juga sangat kuat, khususnya terkait nilai-nilai adat sunda. Salah satunya adalah menjadi alat andalan orang Sunda dalam memperkuat dan mempertahankan diri saat berperang.

Jika diperhatikan, Tugu Kujang Pusaka ini terdiri dari 999 keris, dan bahan-bahan logam bertuah lainnya yang dihancurkan menjadi sati. Bahkan, proses pembuatannya pun tidak mudah karena harus melibatkan 40 empu.

5. Proses pembelajaran sosial yang baik 

Meski jauh dari peradaban teknologi, Kampung Naga ini rupanya menjadi spot terbaik untuk proses belajar, khususnya terkait nilai-nilai sosial. Siapa saja yang datang kesini bisa mempelajari tradisi atau adat istiadat masyarakat kampung naga. Mulai dari rasa kemanusiaan yang tinggi sampai dengan nilai gotong royong. Dengan kesederhanaan itulah masyarakat Kampung Naga bisa jadi inspirasi bagi banyak orang.

Baca juga artikel menarik lainnya: 

6. Fakta kampung naga: tidak ada listrik

Fakta yang satu ini bisa dibilang antimainstream karena masyarakat Kampung Naga sepakat untuk tidak menggunakan listrik. Pada akhirnya, mereka hanya memanfaatkan damar dan oncor untuk penerangan saat malam tiba. Meski pemerintah sempat memberikan penawaran sumber energi listrik di kampung tersebut, masyarakat Kampung Naga tetap menolaknya. Mereka teguh untuk menjaga kelestarian budaya leluhur dan kesetaraan sosial di masyarakat. Meski tanpa listrik, bukan berarti malam hari tetap sunyi senyap. Mereka masih bisa menonton tv atau mendengarkan radio dengan memanfaatkan aki yang disambungkan dengan kabel. Kamu sanggup tinggal sehari disini?

7. Fakta Kampung naga: Kesenian Menarik

Kampung Naga rupanya memiliki jenis kesenian sendiri. Mereka sering menampilkan Terbang Gembrung, Terbang Sejak dan Angklung. Untuk kesenian Terbang Gambrung sendiri lebih sering dipentaskan pada hari-hari besar seperti Idul Fitri, Idul Adha, bulan Ramadhan, dan Maulud Nabi. Sedangkan kesenian Terbang Sajak bisa dilakukan kapanpun, sehingga pengunjung bisa saja berkesempatan untuk menyaksikan kesenian ini. Dan untuk kesenian Angklung selalu dipentaskan saat ada pagelaran adat di kampung tersebut. Misalnya, hajatan, nikahan, atau sunatan. Kampung Naga sendiri pantang untuk menampilkan kesenian di luar itu. Seperti wayang golek, dangdut, pencak silat, dan kesenian yang menggunakan waditra goong.

8. Rumah Ageung

Fakta menarik lainnya yang ada di Kampung Naga adalah Rumah Ageung. Rumah tersebut dinilai begitu spesial oleh masyarakat setempat. Ukuran rumah ini tidak terlalu besar dan dibangun menggunakan bahan-bahan dari alam. Menariknya, rumah tersebut bisa menampung hingga 1000 orang. Masyarakat Kampung Naga begitu menjaga rumah ini. Rumah tersebut dikelilingi oleh pagar yang terbuat barang bambu. Pagar itu hanya akan dibuka pada bulan Robiul awal.

9. Tradisi Gotong Royong

Masyarakat Kampung Naga dikenal sangat menyukai gotong-royong. Kebersamaan tersebut bisa dilihat langsung saat ada warga yang sedang melakukan perbaikan rumah. Para tetangga dengan senang hati menawarkan bantuan tanpa harus diminta lebih dulu. Mereka juga biasanya menolak kalau ditawarkan imbalan. Untuk itu, nggak sedikit yang kagum dengan solidaritas tinggi yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Naga.

Berikan komentarmu