Home Jurnal liburan Napak Tilas Hotel PI Bedugul – Bangunan Angker Tak Kasat Mata Di...

Napak Tilas Hotel PI Bedugul – Bangunan Angker Tak Kasat Mata Di Bali

322
SHARE

Mendengar Bali biasanya kita sudah tak sabar ingin menikmati liburan. Kumpulan pantai indah dari kuta sampai sanur. Pasir putih, pernak-pernik, tempat-tempat wisata sampai hiburan malam. Sudah gak diragukan lagi Bali memang surganya dunia. Sekali-kali mungkin lo harus cobain pergi ke Utara Bali, kalau main basah-basahan udah terlalu mainstream, lo bisa coba pergi berwisata mistis di Bali, tepatnya di daerah Bedugul, puncaknya Bali. Disini ada hotel yang katanya terkenal angker yang dibangun tahun 90an, namun kini tempat itu sudah terkenal jadi tempat wisata misteri. Seru pokoknya, perjalanan gue mencari hotel ini pun juga ga kalah asik, cuma naik motor dari arah selatan, nusa dua, kira-kira perjalanan yang gue tempat 50 KM lah. Hotel PI bedugul biasanya gak bakal lo temuin kalau cari di google map. Triknya harus cari dengan nama lengkap, hotel pondok indah bedugul biar tau persis lokasinya.

Dilihat dari lokasinya pun bangunan ini “hampir” aja luput dari pandangan gue. Gimana engga, perjalanan dari arah selatan sampai ke utara arah Bedugul adalah jalur yang melelahkan tanpa belokan. Sudah hampir ke puncak tapi tanda-tanda PI hotel yang gue cari gak kunjung kelihatan. Beberapa kali gue sempet turun dari motor sekedar mengecek apakah gue berada di jalur yang tepat menuju PI hotel. Dan akhirnya setelah beberapa saat, bangunan itu pun mulai nampak. Dengan semangat akhirnya gue coba menambah kecepatan motor yang gue sewa hari itu.

Kalau saja gue gak melihat ada deretan motor berjejer tepat di depan bangunan tua yang udah gak berbentuk lagi rupanya yang ternyata adalah bekas pintu gerbang itu, mungkin gue gak akan berhenti.

Salah satu pintu masuk hotel, meskipun sudah tertutup dengan alang-alang tinggi dan lebat, kita masih bisa melihat postur tinggi pagar bangunan tersebut yang dulunya pernah digunakan

Berhenti sejenak, akhirnya gue maju lagi sekitar 100 meter kemudian, dan gue melihat papan nama hotel tersebut terpampang di pinggir jalan sebelah kanan.

Untuk masuk ke bangunan ini, kita tinggal bilang sama yang jaga di depan, biasanya ada abang-abangan yang suka duduk di warkop samping hotel. Dia bakal nanya kita mau ngapain, gue bilang aja mau lihat-lihat hotel dan dia bakal kasih izin masuk. Sebenarnya gak ada tiket masuk untuk melihat-lihat bangunan kuno yang sudah jadi tempat wisata ini. Namun kata orangnya kita bebas ngasih berapa aja, hanya sekedar untuk uang kebersihan, jadi maklumi aja. Dari depan, hotel ini dipagari oleh pagar bambu buatan, meskipun bisa dibuka, sayangnya kendaraan gak boleh masuk, mungkin untuk menjaga ketentraman di daerah sini. Tapi gak apa-apa lah, untung gue cuma bawa motor. Kendaraan bisa diparkir tepat di pinggir jalan, tenang aja ada yang jagain dan parkirnya ga perlu bayar lagi.

PI hotel tampak depan

Akhirnya gue mulai memasuki area hotel. Dari sini emang sudah kelihatan kalau bangunan ini lebih seperti villa atau bahkan istana dari arsitekturnya. Rumornya sih kalau bangunan ini dibangun oleh pengusaha dari China karena memang kalau dilihat ada beberapa ornamen khas negeri tirai bambu yang bisa ditemukan di area hotel ini. Walaupun begitu, ada juga yang bilang kalau hotel ini yang punya Tommy Soeharto. Yah siapapun yang buat, yang pasti dulunya hotel ini salah satu tempat atraktif para turis, dengan lokasi yang strategis, hampir ke puncak dan dikelilingi oleh alam dan pegunungan di Bali.

Masih di depan, dedaunan yang berjatuhan di area hotel bakal selalu bikin repot mereka yang mengurus tempat ini. Sampah-sampah yang dikumpulin biasanya dibakar tepat di bawah pohon lebat yang rindang yang juga ga kalah tua dari bangunan PI hotel.

Ini dia pohonnya, sejenis pohon angsana yang bikin teduh banget kalau kita jalan di bawahnya, benar-benar udah kelihatan tua dari ukurannya, bahkan mungkin pohon ini sudah ada duluan sebelum hotel berdiri.

Hmm, tepat di bawah pohon ada tempat peletakkan sesajen, buat yang udah ke Bali mungkin sudah biasa sesajen diletakan di hampir tiap sudut tempat. Tapi untuk yang satu ini, jujur bikin merinding sih.

Kolam yang ada tepat depan lobby hotel

Foto-foto saat memasuki lobby hotel, disini pencahayaan sudah berkurang.

Lebih ke dalam lagi

meskipun masih sore, yang namanya bangunan tua sudah ga berpenghuni, jadi ga ada penerangan sama sekali

Sesajen di atas meja resepsionis

No idea kenapa gw sempet-sempetnya foto ini, tapi hal menariknya, untuk gedung tua seperti PI hotel, sesajen ini masih kelihatan masih baru,  lengkap dengan puntung rokok di atasnya.

Naik ke lantai berikutnya

Apa coba?

Walaupun bangunan lama, tapi hotel ini tetap megah berdiri, dan beberapa ruangannya pun masih berdiri tegak seolah siap sedia untuk menempati para tamu hotel.

Pemandangan dari atas PI hotel, hotel megah ini benar-benar dikelilingi oleh pemandangan ekstrim dari puncak gunung. Bertengger megah di gunung, memanjakan mereka yang pernah merasakan menginap di hotel yang dulunya berjaya ini.

Cerita-cerita yang beredar kalau hotel ini memang terkenal angker, ketika masuk ke dalam pun badan gue diselimuti hawa dingin yang gak enak. Bau-bau aneh juga kadang menyeruap dari tiap-tiap sudut ruangan.

Setelah meninggalkan PI hotel, gue berjalan lagi ke atas semakin ke puncak, berhenti sebentar dan melihat PI hotel dari kejauhan.

Pemandangan PI hotel dilihat dari atas, bagus kan
Berikan komentarmu