Home Misteri 4 Penemuan Arkeologi Menggemparkan Yang Hanya Terlihat Oleh Satelit

4 Penemuan Arkeologi Menggemparkan Yang Hanya Terlihat Oleh Satelit

415
SHARE

Teknologi manusia yang begitu canggih telah mengantarkan dunia arkeologi menjadi berkembang pesat. Dalam hal ini teknik arkeologi udara atau aerial archaeology telah membantu para ilmuwan dalam menemukan situs-situs yang sebelumnya tidak dikenal dan tak terlihat dari tanah. Di zaman sekarang, berkat teknologi yang sudah maju, teknik scanning tempat-tempat bersejarah dari jarak jauh sudah beralih ke dataran lebih tinggi di atas Bumi bahkan bisa dilakukan dari luar angkasa. Dengan memeriksa peta permukaan planet yang diambil dari jarak jauh, para Arkeolog di seluruh dunia dapat mengindikasikan bukti masa lalu manusia yang tersembunyi selama berabad-abad. Berikut adalah empat penemuan arkeologi yang menakjubkan yang terlihat dari luar angkasa yang ditemukan menggunakan satelit.

1. Ditemukannya 3100 pemukiman, 1000 makam yang hilang, dan 17 piramida di seluruh mesir

Sarah Parcak adalah arkeolog luar angkasa sekaligus seorang Egyptologist yang sejak tahun 2003 telah menemukan banyak situs arkeologi di seluruh Mesir. Semua itu lakukan melalui komputernya. Sarah adalah ilmuwan yang spesialis dalam hal menganalisa gambar dari satelit yang diambil dari ketinggian 643 KM. Proses analisa dilakukan dengan menyoroti bagian spektrum elektromagnetik yang dimana tidak bisa dilakukan dengan kasat mata. Hal ini memungkinkannya untuk mencatat anomali yang bisa menunjukkan situs arkeologi yang tersembunyi di bawah tanah.

Penelitian yang dilakukan Sarah parcak dapat memberi petunjuk yang telah membawanya menemukan lokasi 17 piramida berpotensial sangat langka, 3100 permukiman, dan 1000 makam yang hilang di seluruh Mesir (the lost tomb). Sarah juga menggunakan teknologi scanning jarak jauh untuk mengidentifikasi lokasi kota Tanis yang hilang, kota yang cukup terkenal sampai pernah disebut-sebut di film Raiders of the Lost Ark. Jaringan jalan-jalan dan rumah-rumah di Tanis sama sekali tidak terlihat di permukaan tanah, namun menggunakan satelit inframerah, Sarah mampu menunjukkan luasnya pemukiman kuno tersebut.

Baca juga:

2. Punahnya peradaban suku Maya

Wilayah Petén yang berhutan lebat di utara Guatemala adalah rumah bagi beberapa reruntuhan Maya yang paling penting di Amerika Tengah, termasuk Tikal. Para arkeolog telah bekerja sama dengan NASA untuk dapat menggunakan teknik remote scanning untuk memeriksa hutan Petén dari luar angkasa dengan harapan bisa mengidentifikasi lokasi yang telah hilang terkait dengan reruntuhan suku Maya. Suku Maya adalah suku terkenal yang budayanya mencapai puncak kekuatan dan mempengaruhi dunia dari abad 7 sampai 9, namun kemudian peradaban tersebut punah sekitar Pergantian abad ke 10.

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang keruntuhan ini, Tom Sever, arkeolog pertama yang bekerja untuk NASA, telah menganalisis gambar yang diambil dari program satelit agensi yang dikenal sebagai SERVIR yang diluncurkan dari Marshall Space Flight Center di Huntsville, Alabama pada tahun 2005. Tom Sever telah menggunakan gambar tersebut untuk melanjutkan teorinya, yang juga dipromosikan oleh Jared Diamond dalam bukunya yang populer, Collapse namun buku itu tidak diterima oleh semua kalangan ilmuwan yang masih mempelajari Suku Maya, terutama tentang apa yang menyebabkan Maya mengalami bencana ekologis. Di gambar tersebut menunjukkan bahwa suku Maya menggunakan praktik pertanian tebang-dan-bakar yang menyebabkan penggundulan hutan yang parah. Mereka juga mengeringkan lahan basah yang dikenal sebagai bajo, yang dibuktikan dengan gambar saluran kuno, menyebabkan kekeringan dan mengakibatkan kenaikan suhu. Nasib Maya sekarang sering dianggap sebagai contoh utama dari risiko penggundulan hutan dan perubahan iklim.

3. Bagaimana bisa patung raksasa Moai di Easter Island itu berpindah tempat?

Patung-patung berupa wajah manusia di Pulau Paskah (Easter Island) memang telah menarik perhatian para arkeolog dari dulu. Pertama kali dicatat oleh penjelajah Belanda pada tahun 1722. Namun, misteri terbesarnya adalah bagaimana Rapa Nui berhasil mengangkut monolit-monolit raksasa ini dari tempat-tempat penggalian di mana mereka dibawa ke berbagai tempat di seluruh pulau tanpa Bantuan hewan besar atau crane. Terdengar mustahil memang. Dan ini adalah misterinya.

Pada tahun 2012, Carl Lipo dari California State University dan Terry Hunt dari University of Hawaii menggunakan satelit untuk melacak jalur kuno batu dari penggalian ke berbagai titik di sekitar pulau tersebut, mengidentifikasi tujuh jalan utama disana. Penemuan rute ini menyebabkan Lipo dan Hunt mengatakan bahwa patung-patung itu mungkin telah “berjalan” ke tempat tujuan mereka, menggunakan tali untuk memiringkan dan mengubah monolit menjadi bergerak. Untuk menguji teorinya, Dewan Ekspedisi National Geographic Society mendanai sebuah percobaan di mana sebuah gulungan beton berukuran panjang 10 kaki, 5 ton moai dibangun. Dengan menggunakan tali yang kuat, 18 orang bisa dengan mudah berjalan mengelilingi patung masif beberapa ratus yard.

Baca juga:

4. Kota hilang Iram (Ubar)

Lima ribu tahun yang lalu, sebuah kota besar di padang pasir Oman membentuk pusat perdagangan kemenyan yang berharga. Dikenal sebagai Iram atau Ubar, kota legendaris disebutkan dalam kitab suci Al-Quran dan sering pula dikisahkan dalam 1001 malam. Namun tidak ada jejak modern dari kota besar ini yang bisa ditemukan. Penjelajah terkenal T. E. Lawrence (“Lawrence of Arabia”) menyebutnya sebagai “Atlantis pasir”, dan beberapa sejarawan mulai meragukan kalau kota itu pernah eksis. Misteri kota yang hilang itu cukup menggoda untuk menarik perhatian NASA, yang setuju untuk melakukan scanning pada daerah tersebut dengan sistem radar setelah dibujuk oleh penjelajah Amerika sekaligus penulis buku tentang penjelajahan Kota Ubar, Nicholas Clapp.

Misi luar angkasa, Challenger pada tahun 1984 memberikan kesempatan sempurna untuk melakukan scanning padang pasir Oman dari luar angkasa, mencari fitur geologi yang tersembunyi di bawah pasir. Gambar-gambar yang dihasilkan menunjukkan rute kafilah kuno, yang akan ditempuh selama ratusan tahun oleh kereta unta yang bergerak di antara hub perdagangan, persimpangan jalan ini memberikan petunjuk mengenai lokasi potensial untuk sebuah kota. Dengan menggunakan informasi ini, para arkeolog mulai menggali lokasi yang menjanjikan, dan pada tahun 1991 Clapp dan timnya menemukan banyak benteng yang menjulang (persis seperti yang dijelaskan dalam Al-Quran). Hal ini membuat mereka percaya bahwa mereka akhirnya menemukan kota Ubar yang hilang.

Sumber kuno mengklaim bahwa kota tersebut telah lenyap ke Bumi setelah warganya diadzab oleh Allah karena hidup dengan kemewahan menyekutukanNya. Bukti dari situs di Oman menunjukkan bahwa penghancuran kota terjadi karena munculnya lubang besar yang membuat kota ini tertimbun, yang menjelaskan bagaimana kota besar yang dijuluki “surga dunia” ini hilang dari muka bumi.

Berikan komentarmu